Tampilkan postingan dengan label Angkatan Sandiwara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkatan Sandiwara. Tampilkan semua postingan

SANDIWARA



25 Maret 2001 - 25 Maret 2010....

Masih ingatkah kalian dengan The Spy Who Love Me di minggu sore itu setelah kita seharian penuh ber
'ucing-ucingan" ria.... mulai dari "wisata angkot" bawa nasi tumpeng...kejar-kejaran di jalan...
nongkrong di parkiran atas kings...dibawa muter2 bandung...
walopun akhirnya tetep, menang!!hehe...

Jalan Babakan Haji Tamim No.47 (thx yah wendy buat basecamp nya :D) menjadi saksi bisu untuk kita semua "mempertaruhkan" nama SANDIWARA..heehe...

hari Ini, Kamis 25 Maret 2010, SANDIWARA.... tidak terasa skr udh menginjak usia ke-9... :)
Banyak kenangan..Banyak kesan...Susah, Senang, Sedih, Tawa, Tangis..yang sudah kita lewati selama ini...

"S E L A M A T  U L A N G  T A H U N  SANDIWARA....."

Semoga bisa terus berkarya para ndiw nya...
Semoga kita bisa terus menjadi sebuah keluarga..
sebuah keluarga kecil bahagia di dalam keluarga besar Teater Ah"

sayang kalian....berpelukaaann..... cups :*
(hehehehe....)




By : Elsiana Inda Putri Maharani (Puput) , Angkatan Sandiwara

Bukan



dan kau pun kembali duduk di sampingku.
kita terdiam dalam nada yang sama.
senandung sayu berirama ragu
yang membuatmu merasa terpenjara karenanya.

andai dapat kupecah keheningan yang membuat waktu berhenti lebih lama dari biasanya.
yang kuharap hanyalah obrolan dan candaan sederhana.
yang biasa kita lontarkan saat menghabiskan waktu bersama.

sungguh ingin ku menyentuhnya.
namun raga tak kuasa berbicara saat tau adanya.
kelu bibir ini saat mengucap
"aku rindu.."

dan kaupun tersenyum.
tak ada balasan yang sama seperti biasanya.
hanya senyum sendu yang kutahu makna dibaliknya.

kutahu kau ingin waktu lebih cepat berlalu.
kutahu kau ingin aku lebih cepat menjauh.
dan kutahu ini tidak mudah bagimu.

dan kau pun kembali berdiri di hadapanku.
dengan ciuman di tanganmu ku melangkah.
dengan kecupan di keningku dan kau merasa kaku.

sungguh ini sudah tak sama.
bukan segelas teh panas yang menghangatkan badan dikala hujan.
bukan helm yang melindungi saat berkendara.
bukan pelukan yang membuatmu merasa tenang.
bukan dirinya yang membuat kau merasa ada

Angkatan Sandiwara

tentang si saya ... :)

Leave one memory that you and I had together. It doesn't matter if you knew me a little or a lot, anything you remember! Leave a comment on here. Next, re-post this in your notes and see how many people leave a memory about you. It's actually pretty cool (and funny) to see the responses.

  • Where and how did we meet?
  • How long have you known me?
  • The last time we saw each other?
  • Your first impression of me upon meeting/seeing me?
  • Do you have a crush on me?
  • What's my favorite music?
  • Would you call me preppy, average, sporty, punk, hippie, glam, nerdy, snobby, or something else(what)?
  • Have you ever hugged me?
  • If there was one good nickname for me, what would it be? Explain why you picked it.
  • If you and I were stranded on an island, what would I bring?
  • Where do you think I will be in 28 years?
  • What reminds you of me?
  • What is my best attribute?
  • Ever wanted to tell me something but couldn't?
  • Will you re-post this so I can fill this out for you?
By: Elsiana Inda Putri Maharani/Sandiwara

Bukan

dan kau pun kembali duduk di sampingku.
kita terdiam dalam nada yang sama.
senandung sayu berirama ragu
yang membuatmu merasa terpenjara karenanya.

andai dapat kupecah keheningan yang membuat waktu berhenti lebih lama dari biasanya.
yang kuharap hanyalah obrolan dan candaan sederhana.
yang biasa kita lontarkan saat menghabiskan waktu bersama.

sungguh ingin ku menyentuhnya.
namun raga tak kuasa berbicara saat tau adanya.
kelu bibir ini saat mengucap
"aku rindu.."

dan kaupun tersenyum.
tak ada balasan yang sama seperti biasanya.
hanya senyum sendu yang kutahu makna dibaliknya.

kutahu kau ingin waktu lebih cepat berlalu.
kutahu kau ingin aku lebih cepat menjauh.
dan kutahu ini tidak mudah bagimu.

dan kau pun kembali berdiri di hadapanku.
dengan ciuman di tanganmu ku melangkah.
dengan kecupan di keningku dan kau merasa kaku.

sungguh ini sudah tak sama.
bukan segelas teh panas yang menghangatkan badan dikala hujan.
bukan helm yang melindungi saat berkendara.
bukan pelukan yang membuatmu merasa tenang.
bukan dirinya yang membuat kau merasa ada.


By: Tiffany Pratiwi Suwandi/Sandiwara

Failure : I wish all the wounds will healed

Using the Guardian as a shield,
to cover my thighs against the rain,
I didn't mind about my hair.
Your jacket may be waterproof,
but knowing the moment you get home
you're gonna get your trousers changed.
Failure is always the best way to learn,
retracing your steps 'til you know,
have no fear your wounds will heal.
I wish I could travel overground
to where all you hear is water sounds,
lush as the wind upon a tree.
I wish I could travel overground
to where all you hear is water sounds,
to capture and keep inside of me.
Failure is always the best way to learn,
retracing your steps 'til you know,
have no fear your wounds will heal.
Failure is always the best way to learn,
retracing your steps 'til you know,
have no fear your wounds will heal.

another KOC..

By Tiffany Pratiwi Suwandi/Sandiwara

When everything turns to nothing.

Saat harap berubah menjadi asa yg lepas
Saat percaya brubah menjadi ragu
Saat awal terhenti sebelum mulai
Saat itu aku menemukan dirimu
Bkn untuk mengadu
Bkn untuk berbagi
Tetapi untuk membiarkanmu pergi..

By Tiffany Pratiwi Suwandi/Sandiwara

winning a battle, losing the war

Even though I'll never need her,
even though she's only giving me pain,
I'll be on my knees to feed her,
spend a day to make her smile again
Even though I'll never need her,
even though she's only giving me pain
As the world is soft around her,
leaving me with nothing to disdain.

Even though I'm not her minder,
even though she doesn't want me around,
I am on my feet to find her,
to make sure that she is safe and sound.
Even though I'm not her minder,
even though she doesn't want me around,
I am on my feet to find her,
to make sure that she is safe from harm.

The sun sets on the war,
the day breaks and everything is new...

..kings of convenience

By Tiffany Pratiwi Suwandi/Sandiwara

Friendship

“Chika aku merasa ngantuk,mataku sulit di buka…”, bathin Eri.


Badannya telentang di rumput basah yang agak lembab. Wajahnya menghadap ke langit gelap. Awan-awan hitam bergelayut menutupi wajah sang rembulan, terlihat bintang yang bersianr namun awan menutupnya kembali.


“Chik…kamu pasti ingat ketika kita kecil dulu, sering main bersama di kebun belakang rumahmu yang penuh dengan pohon-pohon..mangga, jambu, lengkeng dan jika sudah masa panen tiba, sambil memegang perut karena kekenyangan kita berbaring di rumpur sambil menatap langit biru..putih. Kau sering menginap di rumahku, begitu juga sebaliknya. Malamnya kita perang bantal, curhat, jika lelah menghampiri kita hanya duduk berdua di jendela kamar. Menatap langit malam berharap melihat berjuta bintang. Sekarang mana mungkin melihat itu di kota yang penuh dengan polusi, paling-paling hanya satu atau dua saja yang terlihat. Makanya sekarang aku ingin sekali melihat berjuta bintang kembali di bawah langit gunung Kerinci ini. Tapi mengapa gelap begini?”.


Sejenak Eri menghela nafas diantara lamunannya.


“Chika, mataku ngantuk. Panas, badanku kepanasan. Dari kecil kita sudah saling mengenal karena rumah kita memang tak berjauhan. Kita selalu bersama ke sekolah. Tapi Chik, aku tidak mengerti, mengapa harus ada perpecahan diantara kita hanya seorang Deni? Kuakui dia memang menarik, kita sama-sama mengenalnya di SMA. Dia baik, perhatian pada kita sehingga tumbuh bunga kasih di sela hatiku. Kamu juga! Dan Deni juga! Ironis ya? Chik, kamu tidak jujur tentang Deni. Kamu suka pada Deni dan Deni pun begitu. Tapi mengapa aku harus tahu dari Anti, biang gosip di kelas kita?Aku marah! Tega kau membohongi sahabatmu sendiri. Kenapa tidak menceritakan sendiri padaku tentang hubungan kalian? Karena ingin menjaga perasaanku? Tapi bukan jauh lebih baik, walaupun mungkin hatiku hancur. Dan itu tidak akan mengubah hubungan kalian.”


Eri menghela nafas dalam, hatinya ingin sekali menjerit keras.


“Chika, perutku mual, badanku beku. Aku tidak kuat lagi, aku ingin tidur. Aku disini, di tengah hutan gunung Kerinci, dalam alam yang sunyi senyap sendiri. Dalam kemarahanku padamu, kuputuskan untuk ikut dalam pendakian bersama teman-teman se klubku pecinta alam tanpa memberitahumu. Aku kini sendiri. Aku terpisah dari rombongan. Mungkin karena aku linglung, pikiranku kacau, aku marah! Chik, kau mestinya tahu jika alam punya insting sendiri pada pendatangnya. Aku tersesat! Aku harus terus berjalan tanpa arah untuk menemukan teman-temanku. Ah, entahlah merasa lelah…lelah sekali.”


Mata Eri tertutup rapat walaupun masih terjaga dengan masih bisa merasakan semilir angin berhembus menerpa tubuhnya yang tak bertenaga.


“Chik, aku egois! Tidak mau mengerti perasaanmu. Di depan orang-orang aku bisa memakai topeng ketegaran, padahal kau tahu betul kalau aku cengeng dan manja, pribadi yang lemah. Saat ini sifat-sifat jelek ini muncul bersamaan. Jika kesempatan itu masih ada, aku ingin mohon maaf padamu. Sekarang ku biarkan angin yang berhembus menyampaikannya beserta rasa cintaku padamu dan Deni. Kurasa aku mau tidur dulu…bangunkan aku besok.”


Eri terlelap selamanya…

Hujan turun membasahi bumi.


***

“Dimana kau,Eri?”.


Pertanyaan yang diucapkan berkali-kali oleh Chika sedari tadi. Chika hanya terduduk tertegun di beranda teras rumahnya.


“Aku merasa kehilanganmu, demikian juga Deni yang mencintaimu! Dia mencintaimu, wanita bodoh!”


Angin malam berdesir menerpa wajahnya. Chika terdiam. Sebagian dirinya telah hilang.



by Evi Sri Rejeki/Sandiwara


Catatan : Disadur dari SIAH edisi 1/23 Maret 2001