Tampilkan postingan dengan label Shout. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shout. Tampilkan semua postingan

SANDIWARA



25 Maret 2001 - 25 Maret 2010....

Masih ingatkah kalian dengan The Spy Who Love Me di minggu sore itu setelah kita seharian penuh ber
'ucing-ucingan" ria.... mulai dari "wisata angkot" bawa nasi tumpeng...kejar-kejaran di jalan...
nongkrong di parkiran atas kings...dibawa muter2 bandung...
walopun akhirnya tetep, menang!!hehe...

Jalan Babakan Haji Tamim No.47 (thx yah wendy buat basecamp nya :D) menjadi saksi bisu untuk kita semua "mempertaruhkan" nama SANDIWARA..heehe...

hari Ini, Kamis 25 Maret 2010, SANDIWARA.... tidak terasa skr udh menginjak usia ke-9... :)
Banyak kenangan..Banyak kesan...Susah, Senang, Sedih, Tawa, Tangis..yang sudah kita lewati selama ini...

"S E L A M A T  U L A N G  T A H U N  SANDIWARA....."

Semoga bisa terus berkarya para ndiw nya...
Semoga kita bisa terus menjadi sebuah keluarga..
sebuah keluarga kecil bahagia di dalam keluarga besar Teater Ah"

sayang kalian....berpelukaaann..... cups :*
(hehehehe....)




By : Elsiana Inda Putri Maharani (Puput) , Angkatan Sandiwara

Untuk kalian yang pernah dan masih kuanggap sahabat



Sahabat..
Mungkin aku tak pernah menyapa mu
Mungkin aku tak pernah menanyakan kabar mu

Sahabat..
Mungkin aku memang tak ada untuk mu saat kau butuh bahu untuk bersandar
Mungkin aku tak pernah ada untukmu saat kau butuh pegangan ketika jiwa mu melambung

Sahabat..
Mungkin aku memang bukan sahabat yg baik yg pernah kaumiliki..

Namun percayakah engkau sahabat..
Aku merasakan sedih ketika kau jatuh, pahit dan terpuruk
Aku merasakan suka ketika kau bahagia
Aku tak pernah lupa tanggal ulang tahun mu
Aku tak pernah lupa nomor telepon rumah mu
Aku tak pernah lupa jalan yg dulu sering kulalui bersama mu
Aku tak pernah lupa tempat apa pun yang sempat kita singgahi
Aku bahkan tak pernah lupa untuk menyebut namamu ketika aku menguntai doa

Sahabat..
Aku selalu menganggap mu sahabat..meskipun kini mungkin engkau tak lagi begitu..

Sahabat..
Terimakasih karena pernah menjadikan ku bagian penting dalam hidup mu


 By : Rosalin 'ocha' Emiliana , Angkatan Realita

Harapan Bunda



Setiap pagi kuantar gadis kecilku sampai di pintu halaman, tanganku diciumnya begitu pula pipi kiri dan kanan ku sambil berpamitan untuk berangkat ke sekolah, kemudian di kayuhnya sepeda mini pink itu menjauh hingga hilang dari pandangan. Si sulung anakkku yang ganteng telah lebih dulu berangkat diantar oleh asisten rumahku.

Pintu halaman .. ibarat gerbang .. kuantar mereka sampai sampai ke gerbang cita-cita .. hanya sampai gerbang .. di luar gerbang, dunia milik mereka bukan milikku .. di luar gerbang mereka akan menggapai cita-cita.

Doa .. kasih sayang .. bimbingan .. yang bisa aku berikan untuk mereka .. demi menggapai cita-cita di luar gerbang sana .. dunia yang penuh cobaan .. dunia yang penuh persaingan.

Anak-anakku sayang .. bundamu hanya menginginkan kalian jadi orang yang sholeh, cerdas, pintar serta berguna bagi banyak orang .. Dimanapun kalian berada .. di dunia yang ada di luar gerbang ...
Doaku selalu menyertai kalian ...



Bandung, 21 Desember 2009 .. 16.26
Sehari sebelum peringatan Hari Ibu 



By:Novika 'Oki' Lubis/Malaria

Antara kata, nyata, dan ketidakpastian..

Untaian kata yang biasa ku rangkai tak lagi bisa mengalir. Sudah terlalu banyak kata yang terucap dalam nyata dan sebanyak itu pula senyum dan tangisku terurai. Semua kisah yang kita jalani dalam keanomalian, sedikit demi sedikit mengurai rasa. Entah apa maksud sang waktu pertemukan kita saat semuanya ada dalam ketidakpastian. Tak pernah ada yang pasti bahkan hingga saat 'dia' mengetuk bathinmu jauh sebelum aku mengetahui 'dia' ada.

Tak ada lagi rangkaian kata indah yang biasa kau tulis untukku. Entah via sms, inbox di e-mailku via akun mailmu yang kau pakai hanya untuk mengirim e-mail padaku atau dalam blog rahasiamu yang hanya segelintir orang yang tahu. Saat aku pertanyakan, kau hanya bilang' bukan tak lagi ada kata.. hanya ingin lebih memberimu nyata'. Nyata itu memang hadir.. terlebih setelah 'dia' mengusik sanubarimu, jauh sebelum aku tahu 'dia' ada. Nyata itu hadir walau masih dalam ketidakpastian yang sama.

Rangkaian kata itu seolah menguap seiring kebersamaan kita dalam nyata. Berkali aku mencoba mewakilkan apa yang ada di benak ini dengan mengutip lirik lagu yang belakangan sering sekali mendendang di otakku, aku kirimkan via e-mail dan entah mengapa aku merasa e-mail itu hanya berakhir di kotak 'trash' mu.Berkali kau bilang kau mencoba merangkai kembali kata-katamu, tapi akhirnya dengan satu tekan pada tombol delete di tuts keyboardmu, kata-kata itu kembali hilang tak berjejak. Kata sepertinya tak lagi bermakna dalam tulisan. Kini kata lebih berarti dalam ucapan.. dalam nyata walau dengan ketidakpastian.

Kau dan aku sama. Berusaha merangkai kata untuk menjadi nyata hingga terlahir sebuah kepastian. Tapi lagi-lagi keadaan mengaburkan semuanya. Tak lagi ada kata, hanya ada nyata dalam ketidakpastian.

Tapi di antara kata, nyata dan ketidakpastian yang telah terangkai dan hadir, aku berharap masih ada satu harap yang bisa tersulam. Semoga suatu saat kepastian itu ada menghias indah hari-hari yang akan kita jalani..

*bahkan di saat seperti ini pun rangkaian kata yang ku buat terasa janggal.. tak beraturan dan aneh..

*aku hilang bentuk*


By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Nomor yang anda tuju sedang sibuk,...

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

lima menit kemudian..

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

sepuluh menit kemudian..

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

Jari-jari itu mulai menari lincah diatas tuts handphonenya. "msh nlp ya? Mau pulang jam brp?" akhirnya sebuah sms dikirimkan. Lima menit kemudian, sepuluh menit kemudian masih tak ada balasan. Sosok kecil itu mulai gelisah. Ujung matanya sebentar-sebentar melirik ke arah jam dinding di dekat pintu kamarnya.

Sudah hampir satu jam, ia kembali menekan tombol redial di handphonenya.

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

Huuffth.. masih juga. Entah apa yang sedang mereka bicarakan di telfon. Ia berusaha untuk tenang, tapi tak urung pikirannya gelisah. Ia tahu dengan siapa lelaki itu berbicara. Ada sedikit rasa cemburu yang mengusik hatinya, tapi ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan. Sayang, tak ada yang bisa menahan jari-jarinya untuk kembali bermain di atas tuts handphonenya. "hmmmm.." bukan sebuah kata, hanya sebuah ekspresi yang ia kirimkan melalui sms.

Sepuluh menit kemudian.. masih belum ada balasan atas sms-smsnya. Dua puluh menit kemudian..

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

Ia mulai sedikit terusik. Kesal mulai datang tapi kemudian luruh saat matanya tertuju pada layar laptop yang menyala sedari tadi. Ada foto lelaki itu di sana. Lelaki yang selalu ia nantikan kedatangannya. Lelaki yang selalu membuatnya merasa nyaman hanya dengan berada di dekatnya. Lelaki yang selalu ia rindukan senyumnya. Dan ia pun tersenyum. Ia tahu lelaki itu akan datang. Ia akan kembali kepadanya.

Handphonenya menyala. Sebuah sms dari sang lelaki :
"Sebentar lagi juga ayah pulang, Yang. Bunda jangan manyun ya.."

Akhirnya.. lelaki itu akan datang, dan itu telah meluruhkan semua kesal dan cemburunya. Dia akan pulang, dan itu cukup untuknya. Penantian panjang itu sepertinya tak lagi menjadi masalah.

Well, begitulah cinta. Hanya dengan melihat sebuah senyuman meski hanya dalam sebuah foto, semua lelah dan kesal sepertinya luruh seketika..
Begitulah cinta.. ia akan dengan mudah memaafkan meski tlah menoreh luka berkali-kali..
The power of love..

*aku hilang bentuk*


By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Surat pertama untuk si jabang bayi

Dear anakku tercinta..
Hari ini ayahmu sedang berulang tahun. ulang tahun yang ke 31. usia yang sama dengan ibu. usia yang sudah sangat sangat matang untuk memilikimu. agak terlambat memang. tapi alhamdulillah.. di usia yang matang ini, Allah mempercayakan kami untuk dititipi kamu, nak.

Hari ini. seperti juga hari-hari sebelumnya. juga bulan-bulan sebelumnya. juga tahun-tahun sebelumnya. juga waktu-waktu di mana aku masih sendiri, dan belum pernah bertemu dengan ayahmu. aku begitu rindu untuk berjumpa denganmu. itulah mengapa, begitu suka cita aku menanti perjumpaan kita. sama suka citanya dengan saat-saat tiap kali hendak berjumpa dengan ayahmu.

Dan hari ini. seperti juga hari-hari yang akan datang. juga bulan-bulan yang akan datang. juga tahun-tahun yang akan datang. juga saat-saat ulang tahun kita semua di hari-hari mendatang.. perasaan suka cita ini akan tetap sama. suka cita yang sama dengan saat ku lihat wajahmu untuk pertama kalinya nanti, yang mirip kami berdua itu. suka cita yang sama saat kuantar kamu sekolah untuk pertama kalinya. suka cita yang sama saat kuantar kamu menerima gelar sarjana. suka cita yang sama saat pertama kali kau berpamitan untuk pergi berkencan dengan seseorang. suka cita yang sama saat kau katakan kamu telah menemukan teman hidup yang akan menemanimu sampai mati. suka cita yang sama dengan saat aku melihat wajahmu yang terang benderang oleh kebahagiaan, di atas pelaminan kehidupan barumu.

Dear anakku tercinta..
Aku sangat mencintaimu, bahkan jauuuuuuuuhhh sebelum kita saling berjumpa dan saling menatap. tapi.. sebelum itu benar-benar terjadi. ingin kusampaikan sesuatu. bahwa di hari-hari mendatang, kamu adalah saksi hidupku, saksi bahwa aku sangat mencintai ayahmu. yang sebagian wajahnya ada di wajah indahmu.

Penuh cinta,

Ibu.



Kamu, di usia 12 minggu. dengan detak jantung kencang dan membuatku ingin memelukmu. panjang 57 mm. kepala, kaki, tangan, dan.. mmm.. hihi..
your cute lil something.. :)



By:Manik Prajana/Transisi

I wish...

kenapa c orang-orang suka bilang saya merindu?
saya tidak merindu ko,,
(jangan dulu menuduh saya tidak sayang dan tidak butuh y)
saya tidak rindu kebawelannya,
saya tidak rindu ke-irasional-an ny,
saya tidak rindu ketakutannya,
saya tidak rindu potensi pembunuhan karakternya,
saya tidak rindu keinginan implisit yang tidak dapat diterima pikiran (at least my thought)

tidak!

saya tidak rindu semua itu!
saya tidak pernah minta semua itu juga.
saya rasa saya punya hak untuk memiliki sebagian hidup saya untuk saya sendiri
saya rasa saya punya hak untuk menikmati&melakoni keputusan dan keinginan saya
mudah2an tidak pernah terjadi lagi, pemotongan hak manusiawi saya.
ameeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen


By:Uril Rila Putri Sundasari/Reinkarnasi

Magic Moments

..........................
...........
...............

It's nice
It's cool
It's fun
It's better than sex
It's The "...Magic Moment..."

To be continued....


By:Handika Nugraha/Realita

Menjadi sebuah kenangan

Suatu ketika di saat aku benar-benar terjatuh di keadaan yang pahit
aku bisa nemuin sesuatu yang baru
sesuatu yang indah dan benar-benar indah
Tadinya aku pikirkan hanya sebuah impian yang takan terwujud
tenyata bintang jatuh menghampiriku

Aku menemukan sahabat yang terbaik
banyak kenangan indah yang kita jalani
mereka yang bikin aku bangkit di saat aku jatuh

Mereka selalu ada!

sampai.....
aku menemukan seseorang yang terbaik dari yang lalu.

lalu...
seseorang yang bisa menutupi kekurangan
menjadi suatu kelebihan

tapi.....
sekarang semua itu hanya kenangan

Andai aja aku punya mesin waktu
pengen banget balik ke masa itu
(kangen Garnish yang duluu)

By:Nike Andriany/Ekspresi

A Nice Acquaintance in the Sky

A nice acquaintance happened in my flight to Pontianak last Monday, September 27th. I just finished my ESQ training in Balikpapan for the last 3 freakin’ days (that’s a whole another note to tell). I just happened to sit beside a couple of foreigner, elderly (I think he was around 67) named Peter Glen Mayland and his wife (I forgot to asked her name). He’s a retired psychiatrist from Redwood Valey, California. They’re heading to small village named Sukadana, Kabupaten Ketapang (a 6 hrs boat trip from Pontianak to Ketapang and another 3 hrs of driving). After the meal came we started to chat. Maybe after seeing my new book Brisingr (yipee!). And these amazing stories just flew out, about the US election, politics, social economics, health, books, culture, the war, global warming, family, and life. All in a 1 hour flight to Pontianak

First of all, as I said before, Peter’s a stay at home psychiatrist where his wife runs the office. He has two children (twins, boy and girl), all grown up, all doctors, and they’ll soon to be grandparents. Hopefully this year. So they’re heading to Sukadana to help the local clinic there, named ASRI, a non profit clinic where the local villagers get almost costless medication as long as they don’t do irresponsible logging in the area. The clinic founder is a friend of their daughter. She had this dream once, when she was still in medschool, that she opened a free clinic on that village, and after earning her degree, she went there with her husband (who coincidently is a Botanist) and open her free-clinic, well almost free, because in the end they feel that in order for the people not take the medical attention for granted, they should pay something in return I think it’s about Rp. 1000 - 5000.

Back to Peter. He and his wife wanted to travel to Indonesia again (they’ve traveled here before, in 2002, where they backpacked from Bali, Java, and Sumatra), so they e-mailed their daughter’s friend and said they wanted to visit Kalimantan. And in the end, they wanted to help the clinic all that they can. And here they are. They’re staying for about 2 months, when I asked about the voting next week, they said they already vote (in the early voting), and they voted for Obama (thank god). I got a pretty good insights about the US from him. In summary:

1. Health, it’s still a major issue there, where Medicaid (for the poor) and Medicare (for the elderly) most of the time is not helping the patients. Where doctors and patients have little say in the care they get, where insurance companies is in control most of the time.

2. Politics, it’s like the novel/movie All The Kings Men. It’s still is.

3. Obama, he does represents change, not a big change in the system, but a change of view. Opening a whole new chapter in American history.

4. Family values, he said he envies people in Indonesia where people really connects with their family despite the economic situation. Although it’s been good, he misses their children sometimes, although they’re 6 hours away. He once saw a shanty town in Jakarta, where the people are really living beyond poor conditions, but still have the happy faces dan family bond.

He said that back home he’s currently advising a family, 5 caucasian siblings (so much for the hippocratic oath). There’s a lot of violence in the family. The son shot his father. The daughter stabbed her husband. And that’s only the tip of the iceberg! (he said, “Well, it’s nice though, knowing my job is secure. Americans are crazy!”)

5. Economy, it’s a mess. It’s devastating him to see his children still struggling despite they’re doctors. Where their student loan is still a huge burden for them.

6. Global warming. He said that in the Vietnam war, when he served as a medical officer in the states, on a mission to the arctic, he saw endless horizon of solid ice. Back then you can see the first ice 5 miles away from the port. Now it could take 10 miles to see the first ice. Freaky.

So at one point in our conversation he asked me “What are your goals and dreams?” Damn psychiatrist. Well, I told him the truth, that I’m still searching for that one true goal (I’m still 25, man!) Hopefully, Godwilling, I’ll find it. In hearing my answer. He said:

“My dream was to travel the word, luckily I had the chance after I retired some years ago, and we’re still on it. And my goal has always been about my family. Luckily I managed to raise a nice, warm family. And I hope you can to.” I thought, Whoa. That’s deep. Simple, yet deep.

Then comes another question: “Sorry, Are you married?”. Damn you psychiatrist! Kenapa mister, mo jodohin? Huaduh. Let’s leave that question hanging, for now.

Well, our flight landed atlast on Supadio Airport, Pontianak. Seeing the green tropic trees, lit up Peter’s smile almost instanty. It’s been memorable having this acquaintance with him (more memorable than the ESQ thing). Hopefully I’ll meet him and his wife again next week in Ketapang. It’s been a nice acquaintance.

By:Purboyo Imam Rahajoe/Realita

Ironi

beberapa waktu lalu saya pernah menulis status seperti ini..

apakah kamu sudah cukup kuat mentalnya untuk berbisnis?? dengan segala hati dan perasaan di dalamnya? dengan deadlinenya? dengan segala hambatannya?? jangan tanya uangnya sih.. kita semua pasti selalu kuat mentalnya untuk menerima uang.

dan status ini mengundang seorang sahabat saya bertanya langsung ke hp saya. dia bilang kenapa saya nulis kaya gitu?? emang saya bisnis apa? dan lain-lainnya hingga kami pun berbincang lama sekali soal bisnis. dan terakhir dia memberikan masukan soal bisnis itu sendiri.

lalu saya terdiam. dan saya pun menjawab smsnya dengan kata-kata berikut ini..

'iya neng gw ngerti teorinya mah. ironis kok. baru aja gw ngasih masukan pada si A dan si Z soal yg lu bilangin td. dan malam itulah jg gw kena masalah ini. isn't it ironic?? seperti psikiater yang gila, dokter yang sakit, dan Ligwina Hananto yang punya utang*.hahahaha!'

*Ligwina Hananto adalah seorang financial advisor*

mungkin disitulah letak ketidaksempurnaan manusia. dan ketidaksempurnaannya itu kadang begitu ironis..

seperti..

psikiater yang gila..
penyiar yang pendiam..
dokter kecantikan yang jerawatan..
fashion police yang salah kostum..
CIA yang comel..
konsultan pernikahan yang bercerai..
aktifis anti narkoba yang tertangkap basah pesta shabu-shabu..
ahli matematika yang tidak bisa berhitung..
ustadz yang tidak bisa mengaji..
guru TK yang membenci anak-anak..
aktor yang tidak bisa berakting..
Rebecca Blomwood yang jadi financial advisor..
fitness trainer yang gembrot..
...
...
...

dan bukan tidak mungkin ironi yang terjadi itu ada dalam kehidupan sehari-hari. bukan hanya tidak mungkin tapi mungkin banyak!! ;)

hmm.. walopun saya adalah manusia yang tidak sempurna. tapi semoga saya adalah manusia yang berada di jalurnya dan menjalani kehidupan sesuai dengan porsinya. hidup bahagia, dan hidup membahagiakan. jika itu tercapai, setidaknya manusia tak sempuna itu pun mungkin akan merasa hidupnya sempurna.


By:Manik Wiratamidjaja/Transisi

Harga sebuah penghargaan

Menghargai yang tidak disukai adalah pengertian,
menghargai yang disayangi adalah perhatian,
pengertian dan perhatian adalah wujud menghargai,
baik suka maupun tidak!
Kata...
sikap...
tawa...
pikir....
adalah wujud penghargaan mu..
dan penghargaan menentukan nilai mu..
nilai mu menjadikan penghargaan ku..


By:Hendrik Silitonga/Skandal

Sejati

Kemarin, kini dan esok, manusia sejati berusaha ingin di akui oleh lingkungannya. Dari apa yang ia dapat, besar kecil, baik buruk, benar salah, berharga atau tidak, sengaja atau tanpa disadari, pasti ada yang ia berikan dan bagikan kepada keluarga dan sahabatnya. Tanpa disadari ia sedang mencari apresiasi atas dirinya. Mencari eksistensi tanpa batas pasti. Bayangkan ada berapa miliar manusia di bumi yang sama-sama mencari eksistensi. Saat itulah terjadilah benturan antar kepentingan masing-masing, disinilah mulai terjadi persaingan antar manusia. Di setiap sudut kehidupan pasti ada persaingan. Tak jarang persaingan tersebut bergesekan dan terjadilah konflik. Entah itu konfik batin atau bahkan konflik lahiriah.

Hingga diperoleh insan-insan manusia yang terpilih sebagai manusia yang lolos dari seleksi alam raya ini. Seleksi yang ia dan kita lewati saat ini. Inilah sebuah proses panjang sebuah capaian. Proses yang selalu diakhiri dengan ujian yang terasa sulit. Ujian bisa datang dari sang pencipta langsung seperti bencana misalnya atau bisa saja diwakili manusia lain dengan membuat masalah-masalah sehingga kita harus menyelesaikannya, dengan batasan waktu. Lagi-lagi ia lulus, tapi entah dengan manusia-manusia yang lainnya. Proses ini merupakan salah satu titik saja dari garis panjang rangkaian proses dalam hidup manusia. Rangkaian proses yang bertingkat-tingkat tanpa puncak.

Pastilah terasa berat untuk dilewati, apa lagi ujung perjalanan ini adalah kematian yang tidak ada jawabannya kapan. Berat, terjal, banyak air mata dan penuh keringat bahkan sempat terjatuh dan terluka untuk berjalan di atas garis perjalanan manusia. Bila dilihat dari jauh sebuah trek yang ia lewati, ternyata ia sedang menanjak. Menanjak menuju titik kesuksesan. Dan ia berhasil mencapainya, tentu dengan perjuangan dan pengorbanan, serta dengan ucapan keluh dan harap yang ia tidak sadar telah didengar Tuhan sebagai doa. Ia lupa bahwa kesuksesan itu hanya sebuah titik puncak. Dimana ia pasti kembali turun atau tidak sengaja sesekali terperosok dalam kebawah jurang. Namanya manusia sejati. Pasti akan ia daki kembali titik-titik kesuksesan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Ketika kita sedang merasa tanpa beban, hidup indah dan tenang, kita sedang ”berjalan turun” dan saat kita bermalas-malasan maka kita sedang meluncur tanpa hambatan ke dasar jurang. Oleh sebab itu terus mendakilah sepertinya. Hidup seperti manusia sejati.

00:50-29052009-
By: ARYA/Fase

Setiap saya kesasar pasti saya temukan jalan baru

saya berlari sungguh tidak jauh.
bahkan keringat pun tak ayal muncul.
tapi saya lelah.
sangat lelah.
#butuh ruang dan waktu untuk sekedar mengambil nafas

don't have a man, but so the hell what!
(suddenly it occured that the sentence was the BAD idea!)
saya datang dengan persiapan kalimat-kalimat untuk disampaikan.
but as it does.
HILANG!
bahkan saya gak tau mesti ngomong apa di depan dia! *sigh
3 kalimat terakhir "maafin-jara-ya"
oh, what a DARN!Rata Penuh
saya masih tidak bisa menerima bahwa kamu berubah jadi semacam dangdut!
kamu pikir saya tidak tahu kamu akhir-akhir ini?!
saya kira saya datang, kamu bisa tersenyum.. ternyata saya dapatkan hedonis keegoisan dan kekesalan kamu! (dan memang saya pantas dapatkannya)
yang lebih sial lagi, saya dapakan gigitan anjing di rumah kamu itu!
(aaRRRRKKHHHH!! sungguh ingin teriak kencang tapi saya malu!) (gengsi lebih tepatnya)
lalu saya pergi terpincang-pincang (karna tidak berlari)
huh

and i wondered, what happened when it stop pretending? what happened to the relationship?
he couldn't love me anymore, because i weren't the I AM he said i were.
he was free to leave. YOU WERE FRAUD!
he sighed as if said that he understood things hadn't been easy for me, but he just gave me more and more pressure to just bring it with.
(i forced mysef not to look into my eyes where we each saw the well of sadness #iya gitu? haha)
(what the hell! you don't even look into me!!)
what kinda gurl i am?! he's the one who i let see all my sides, not just a pieces! he's the one who'd listen to my dreams with his eyes closed as if visualizing pictures of what i said! he was always like he could smell what i was thinking! i loves the way he talk as much as he listen to me! we're means the world for me.. and how great we are together!
O, GOSH! he doesn't even need A WORD!
(maybe sword for killing me softly!)
(dan sesungguhnya saya rela!)

i was busy trying to kill the illusion.
kamu. umi. aba. adik-adik saya. kuliah saya. obor. OH, CUKUP!
i can no longer breathe because i'm dying. i was tottaly smitten by.

i didn't want too see him. to be reminded of what had happened.
biarkan saya yang datang untuk kamu.
(jika kelak saya sanggup) (dan harus sanggup!)

dan lalu dijalan bertemu ibu yang sengaja cerita tentang anak lelalki kesayangannya yang baru aja meninggal karna kecelakaan motor.
dan dia sungguh tersengguk-sengguk.
(saya inget umi..)
sesungguhnya saya pergi bukan untuk dia.. tapi untuk kalian..

omegle.com
then i told to strangers.. all the things had happened..
he was Ken, 24yr, Pennsylvania
"Oh, dear. it's not that bad. it's just been so much drama. Listen, if it's any consolation at all, let me just tell you that you'll get through this. you have to back home now!"

that i'll get through this..
and back to home..
and face it..
(then he said that "we are" too much)
yes, we're to demanding, too in my face, too successful and too heardheaded!
but i'll get through this..

saya di rumah..
dan menemukan jalan baru itu..
semua tampak lebih baik (Alhamdulillah..)
sejenak saya menghirup ke-"RUMAH"-an kembali..
semoga semua akan baik sebaik-baiknya...

jika kelak saya amnesia, tolong kamu ingatkan saya akan :
Sandy Memanasty , kamu temani saya hingga pagi hari! kamu bahkan seperti merasa isakan saya, dan kamu dengar saya.
Rifky Satya Nurhakim , kamu? Ah, saya tidak punya kata untuk itu! saya rindukan jam6pagi saya oleh kamu!
Wisnu Tresna, kamu terus beri saya pesan "kuliah ga, jar?" haha.. dan terimakasih untuk pundaknya (yg lebih nyaman daripada sandy atau batu)..
Prastina Dwi Utami , Oh, Dear! No matter we know each other lately! tapi sungguh kamu terlalu perhatian untuk saya! sungguh saya suka kamu!
Adiezta Panjiesha Ardiwilaga , aahh.. sungguh gila saya untuk kamu dizztaaa... demi apapun itu kamu memang yang "paling"!
Dyah Apriastuti Heryati Putri , oh darl.. i'm sorry that it hurt you..
Ruth Pricilla DP , saya sayang kamu juga.. doa kamu bantu saya sangat..
Kerlinda Restu , Indah Euis Atikah , Rizki Muhamad Novianto , Intan Fresty , dan nama-nama lainnya ..
Choirul Coco Akbar Suwito , Ka vivi , Dandy Kurniawan Suwito , Fidi Nila yang ikut khawatir juga.. (hehe)
sungguh banyak terimakasih, fella..
terimakasih dan maafkan saya yaa..
terima kasih..
and i heart you..


By:Zara El Maulida/Fase

SIMPLIFY COMPLEXITY

Dalam perjalanan dari Padang menuju Kabupaten Padang Pariaman, saya terlibat dalam sebuah percakapan dengan seorang sahabat. Setelah beberapa topik kami bahas, dia berkata, “Jay, lu itu orangnya simple banget yah!” Spontan saya menjawab, “Ngga, gw bukan orang yang simple.”

Kemudian saya teringat beberapa waktu yang lalu ketika dokter mengatakan bahwa saya hanya boleh mengkonsumsi jenis makanan tertentu saja, saya menurut dan akhirnya saya mengalami kejenuhan. Saya bilang pada kakak saya, “Saya stress dengan makanan saya.” Kakak saya mengomentari dengan kalimat, “Da, kumaha sih hirup teh? Maenya dahar wae stress?” (Da, gimana sih hidup itu? Masa makan saja stress?). Waktu itu saya tertawa, kakak saya benar. Orang di luar sana tidak makan, sementara saya stress karena jenis makanan saya yang itu-itu saja. Sungguh inappropriate… Akhirnya saya berhenti rewel, kemudian mulai terbiasa dengan makanan saya. Kelihatannya simple kan? Stop complaining, start enjoying. Saudaraku, melaksanakannya sungguh tidak sesimple itu...

Saya bukan orang yang simple, tapi mengapa terlihat simple (untuk beberapa orang?)

Menurut saya, hidup saya itu sangat luar biasa rumit. Bukan karena hidup saya benar-benar rumit, tetapi karena saya seringkali menjadikan sesuatu itu rumit. Ada hal-hal yang bisa saya ringkas, tapi saya pilih jalan berbelit-belit. Itu sebabnya, saya memutuskan untuk berubah, menjadikan hidup saya lebih simple.

Saya teringat Abang ipar saya, dia selalu mengatakan SIMPLIFY COMPLEXITY. Dia bilang "setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup kita adalah persoalan yang sepele dan tidak harus dipusingkan". Namun ketika saya menjejali pikiran saya dengan kata, “simplify complexity”, apakah kerumitan itu hilang???

Saya kembali dulu ke percakapan saya di perjalanan menuju Padang Pariaman. Saya bertanya pada teman saya tadi, apa yang membuat dia berfikir saya itu orang yang simple? Jawabannya adalah, karena (kurang lebih) saya sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengarah ke situ. Lihat saja, dengan impulsifnya, saya tiba-tiba berada di Padang, yang kalau di tanya orang ngapain, dengan cueknya saya menjawab, “Mau menghibur relawan!” Hey, apapun alasan saya pergi ke sana, yang jelas saya punya alasan.It's a secret la! Tapi cara saya menjawab pertanyaan emang suka asal, hahaha. Lihat saja status dan komentar-komentar di FB saya, semuanya suka saya jawab dengan asal! Itu sebabnya kadang saya juga sering disebut sebagai orang yang cuek!

Iya juga yah, kalau dipikir-pikir, saya itu sering sekali berkata, “Ya udahlah…” “Biarin aja lah..” “Santai aja lah…” dan sejenisnya. Kesannya emang simple ya? Lantas, profesi saya sebagai penyiar juga mengarahkan saya pada sebuah identitas ‘orang yang simple’.

Setelah memikirkannya, sekarang saya mengerti mengapa saya terlihat simple. (Lihat! Saya memikirkannya, padahal bisa saja saya melupakan percakapan itu kan?) Dalam berkarya, dalam kehidupan sosial saya, dalam pekerjaan saya, saya cenderung menghasil output yang ringan. Misalnya ketika sedang siaran. Saya memberikan salam, baca SMS, baca topik, melucu, dan pendengar berfikir, hmm ringan… Ini penyiarnya cuek banget! Di lain kesempatan, saya bisa tertawa, sinis, smart, pura-pura tidak tahu, emang betulan tidak tahu, atau malas bicara jadi puter lebih banyak lagu, seakan-akan hidup saya sama dengan kehidupan yang saya hembuskan disaat siaran.

Kenyataannya? Tanyakan saja pada para pekerja ‘broadcast’ lainnya, betapa rumitnya kehidupan “di belakang layar”. Huhuhu… Dari mulai mencari keselarasan antara produser, marketing dan pemilik radio, kemudian buat bahan, menyamakan visi misi, menghadapi klien semuanya itu complicated saudara-saudara. Jadi, membuat bahan siaran yang RINGAN membutuhkan kerja yang BERAT. Indeed.

Banyak orang mengatakan novel saya adalah novel yang simple. Padahal saya membuatnya dengan sangat rumit. Perjalanan membuat cerita yang RINGAN tersebut membutuhkan perjuangan yang BERAT. Untuk 5-7 halaman pada saat saya mendiskripsikan seperti apa papua, saya benar-benar sedang ada di sana, dan apa yang saya alami di sana sehingga tertuang ide cerita ini, sungguh tidak enak untuk dikenang. Untuk sebuah bab di Aceh, saya menjalani dan melihat sulitnya kehidupan pasca tsunami, dan secara pribadi saya sempat mengalami trauma karena melihat hal-hal yang tidak mengenakan mata saya. Untuk sebuah kisah cinta, saya mengamati ratusan kisah cinta. Tapi sungguh, saya sangat menikmati proses tersebut. Saya, adalah orang yang sangat menikmati sebuah proses, apa pun bentuknya.

Kembali ke SIMPLIFY COMPLEXITY yang akhir-akhir ini sering saya baca di status YM Abang saya (pinjem ya bang…). Apakah dengan menjalankan prinsip ini, kita hanya menerima persoalan-persoalan sepele saja? Menolak tantangan untuk mengerjakan sesuatu yang rumit? Tentu tidak, bukan itu maksudnya.

Intinya adalah, jangan jadi pusing karena sebuah masalah. Sesukar apa pun bentuknya persoalan kita, kalau kita melihatnya sebagai persoalan biasa, kita akan mendapatkan kekuatan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut. See, terlihat simple bukan? Yeaaahh, saya tahu prakteknya tidak mudah, but I’m workin’ on it! Ini saya lagi nasehatin diri sendiri kok ;)


Salam,
Jay/Jimat

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan padaku”

Satu Hari di Panti Jompo

Tatapan itu tak bisa kutebak, entah bahagia entah merana..yang pasti mereka bersama menjalani sisa hidup di panti jompo ini. Hatiku berdesir menyisipkan sebuah harapan, semoga saja kelak saat tubuh ini tak lagi kuat, saat fikiran ini lebih banyak lupa dibanding ingat, saat aku tak lagi berdaya mengarungi dunia tetapi raga masih tak mau berpisah dari jiwa, anak anakku mau menemani masa tuaku, walau hanya dengan sebuah sentuhan dan tatapan cinta.


Tak Pelak banyangan Mama-pun hinggap dalam benak, dan hati berujar janji

tak akan pernah kubiarkan kau sendiri Mama..
aku ada untuk ada
ada kapanpun saat kau butuhkan
ada dan akan bersama memikul rasa sendirimu saat tubuhmu tak lagi kuat
ada dan aku pastikan kau dapat memegangku erat saat energimu tak lagi sebesar saat mengurusku

Mama..aku tak akan pernah bisa membalas semua keringat dan air matamu yang tercurah saat kau membesarkanku
tapi aku pastikan, hingga akhir hayatmu aku akan menjagamu.. InsyaAllah ..

Suara tawa menyadarkan lamunanku, mata kami tertuju keseorang kakek yang sedang bernyanyi.. begitu riangnya, dan keriangan itupun menular kepada kami.. Alhamdulillah di umurnya yang lebih dari 60 tahun, kakek masih bisa berbagi bahagia.

Usai bergembira, dan memberikan bingkisan simbolik buat sang kakek & nenek, kamipun berkeliling melihat Asrama, tercengang sesaat melihat ranjang yang berjejer rapi, dan disana kami disambut dengan uluran tangan nenek tentu dengan senyum bahagianya.
Ada seorang nenek yang cukup menarik perhatianku ” nenek Siti Rahmi ” namanya, beliau berusia lebih dari 80 Tahun, dari logatnya aku menebak beliau berasal dari padang sumatera barat. Meski tak mengerti banyak bahasa padang, aku meresponnya dengan senyuman, seraya hatiku hanya dapat mendo’akannya agar Nenek ini diberikan Allah kebahagiaan disisa hidupnya juga di Akherat kelak.

Rasanya waktu tak cukup banyak, kamipun harus terus berkeliling dari asrama yang satu dan yang lain, mataku tak henti menyapu semua aktifitas disana.. aku melihat beberapa kakek nenek antri makanan untuk berbuka yang satu membantu yang lain, Subhanallah..mereka sepertinya sudah menyakini bahwa sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama

Disisa energinya, merekapun masih terbilang produktif, beberapa kelas keterampilan memang di selenggarakan disini, membuat Taplak Meja, Keset, bahkan ada keterampilan seni. Sabar & Ikhas terpancar dari instruktur / pengurus para Jompo, mereka melayani dengan senyuman, menatap sang jompo dengan kasih sayang.. Subhanallah..

Tak terasa, waktu sudah menunjukan jam 4 sore, kami harus bergegas pulang dan rasanya cukup lama kami menggangu waktu para Jompo itu, mereka butuh istirahat apalagi untuk Jompo yang berpuasa, tentu jam 4 adalah puncak segala kelelahan.

Aku bersama teman temanpun pulang, petualangan fisik di panti jompo memang berakhir tetapi aku menyakini petualang rohani tak akan pernah berakhir,dan rasanya bingkisan yang kami serahkan tak lagi sebanding dengan bingkisan pelajaran untuk kami mengenai pengingatan kami akan orang tua yang semakin meneguhkan kami bahwa sedikitpun tak akan kami sia siakan mereka..

26 Agustus 2009.. hanya untuk berbagi


By:Widya Castrena Nugraha/Skandal

Efek Samping

Kalau di tilik-tilik, pada kisaran tahun 1999-2003/2004 kondisi keimanan saya lumayan canggih. Saat itu merasa siap mati. Sy tidak khawatir, karena sy menganggap Allah benar-benar dekat, entah sebagai Sahabat untuk berbagi, atau sebagai Tuhan.

Dan diatas tahun itu, yang ada hanyalah radikalisme pemuda, radikalisme ideologi, keinginan untuk eksis dan berkoar-koar, berkobar. Sy masih ‘malu’ untuk mengakui bahwa di dalam diri sy terdapat keinginan untuk ‘terlihat’ become a famous idol of resistance, sementara hati kecil ini sy borgol, sy sudutkan.

“Manusia memang membutuhkan pengakuan,” ucap seseorang yang nafasnya bau Gudang Garam.

Perkataan kawan saya itu memang manis, terasa renyah, kelihatan bijak. Tapi renyah, manis, bijak dari sudut pandang apa? Jika tak menyebabkan datangnya rahmat dan pahala, untuk apa?

Kita mungkin pernah mendengar, bahwa ujian pertama orang-orang besar bukanlah diosol-osol, diadu-adu, tetapi disanjung-sanjung sampai tinggi sampai tak bisa bernafas lagi, karena jiwa ini terbang jauh menuju atmosfer. Karena jiwa ini melayang tinggi membuat sesak.

Tak baik, tak boleh. Sy bukan orang besar. Sy hanya orang kecil yang berusaha untuk membakar keinginan akan semerbaknya sebuah nama. Karenanya, kini, sy berusaha tak peduli dengan ‘eksibionisme’ secular mengenai manusia harus eksis secara total.

Dalam konsep sy yang sekarang: eksis itu tidak berharga apabila pencapaiannya diawali, dilalui oleh keinginan untuk menjadi eksis. Eksis itu harus muncul alamiah. Harus muncul dari valensi. Karena valensi (menjadi terkenal karena usaha, bakat, karena kecedasan, skill) itu merupakan efek samping. Bukan tujuan. Tapi efek samping.

Diposkan oleh Divan Semesta Jumat, 2009 Juni 26 di http://divansemesta.blogspot.com/2009/06/efek-samping.html

notes: ini adalah catatan yang saya curi dari blognya Divan Semesta, maklum sedang buntu menulis... tapi kurang lebih seperti inilah yg ada dikepala saya akhir-akhir ini... terimakasih Divan sudah mengingatkan... semoga Allah dan para Syuhada senantiasa bersama kita...


By:Angga Wedhaswara/Realita

Show me the way!!

Keadaan yang semakin menantang ataupun mimpi yang indah tentang hidup yg sukses membuat kita harus terus menghebatkan diri menghadapi tembok besar yg biasanya menghadang dan harus diloncati bila ingin tiba di tujuan. Namun untuk membuat loncatan yang begitu tinggi agar muka tidak rata dengan tembok ataupun nyangkut di selangkangan, maka kita harus meloncat lebih tinggi dari temboknya. Tembok yang begitu tinggi membuat suatu perasaan ketidakmampuan muncul dan melemahkan perasaan, dan harus diimbangi dengan afirmasi dan persiapan untuk membangkitkan percaya diri.

Bagaimana caranya??

Otomatis pijakan kita harus rata dan kuat, supaya tidak mengurangi keseimbangan dikaki dan keraguan mendorong ke atas. Lalu kaki sebagai pegas/fungsi lontar haruslah keras dalam gaya tekanan dan ditarik sampai titik terbawah agar hasil lontaran per tersebut maksimal mendorong seluruh tubuh. Lalu badan haruslah ringan, tidah membawa beban yang tidak diperlukan untuk meloncat dan posisi badan pun menentukan kearah mana akan menuju. Lalu, (kalo boleh gw bilang) yang tak kalah penting adalah kepala. Kenapa gue bilang gak kalah penting? Karena hal ini yang membedakan loncat yang disengaja berdasarkan keinginan, dengan loncat tembok dengan insting karena dikejar anjing galak, rabies pula, atau oleh warga sekampung bawa obor dan golok sambil diteriakin maling.. hehehe.. Semuanya bisa menibakan ke atas tembok, hanya elo boleh pilih keadaannya, dengan keinginan untuk maju atau dipaksa karena terdesak keadaan.
Kepala-lah yang membedakan antara sadar dan tidak untuk memulai, meyakinkan hati, melihat ke depan dan memikirkan berapa jarak lari yang dibutuhkan sebagai ancang-ancang, mencari dimana pijakan yang rata dan kuat, tembok mana yang (mungkin) lebih pendek dari lainnya, berapa kuat lontaran yang dibutuhkan & berapa energi yang badan harus miliki untuk mewujudkannya dan juga apa yg tidak perlu dibawa baik di badan ataupun di pikiran, bagaimana posisi kemiringan badan kita untuk loncat, maupun menghadapi rintangan sebelum loncat misalnya batu kerikil, kubangan air ataupun angin, kapan saat yang tepat untuk melontarkan badan, dan menyiapkan pandangan yang fokus dan tangan terus menggapai ke atas agar pikiran hanya pada tujuan dan tangan selalu siap dan sigap dalam membantu menggapai puncak dari tembok tersebut.

Yeah right.. bla.. bla.. bla..
hahahaha.. I know..
santai lah..

Kalo semua itu terasa ribet dan udah buat berat kepala duluan, maka salah satu guru gue, James Gwee (courtesy from AXA Mandiri, Exelence is my life's national seminar & gathering) bilang, bukan cari 'how', karena ampe taun jebot juga lo gak akan tau 'how'-nya karena lo belom pernah melakukannya!! Yang dicari 'who'.. karena si-'who' itu udah pernah melakukannya, dan elo tinggal belajar sama dia..

Yeah right again..
gak semua mentor bisa dideketin dengan gampang kali..

But some times u don't have to searching the "it" mentor to guide you out from the dark age, but more from around us that make our daily surrounding, that their presence is available in anytime but we often miss the opportunity even failed to ask nor to listen. Your boss, friend, parents, family, spouse, even from your younger brother or your child, and so much more from TV, radio, internet, etc. Trus kalo mau lebih mantab, the "it" mentor biasanya menulis buku untuk membagikan pengalaman dia kepada masyaraka. Dan kita bisa dengan murah membeli pengalaman hidupnya yang membuat dia sukses luar biasa hanya di toko buku terdekat. Memang lebih enak lagi kalo kita mendengar langsung dengan ikut seminarnya, atau lebih mantabh lagi bila di-coaching langsung oleh sang trainer/mentor.. tapi itu pasti high-budget lah..

But in the end, it's all about you. Whether you want a succeed in life or not, whether you are willing enough to learn more than you are already comfort right now, whether you can keep up with your dream rather than lay back and enjoy the sight seeing..
Well, its a whole different story..

Until then,
Stay Grand and Focus

By Hendrik J.Silitonga/Skandal

Anonim

dan kembali menjadi nomor nomor yang tak bernama juga sukar untuk diingat,konstan pada titik dimana kecewa dan menangis menjadi makanan sehari-hari yang harus kita coba mati rasakan sampai akhirnya tidak berasa sama sekali.

kembali berjalan pada lorong yang sama,kembali dengan rutinitas,kembali dengan pagi yang sama juga matahari yg sama tanpa ada yang mau menunngu barang sejenak untuk menghela napas,sehingga lagi-lagi kembali menjadai robot-robot yang menghambasahayakan target,ambisi,kemenangan dan begitu banyak hal yang kadang kehilangan essential ketika kita menikmatinya hampir setiap hari.

kembali menjadi nomor-nomor,kembali terlupakan,kembali tak bernama,kembali terbungkam,kembali terpojok,kembali bisu dan kembali pada nol.

By Sarita Rahmi Listya/Sinergi

Orang Ikhlas itu segala urusannya diambil alih oleh Allah

“Orang Ikhlas itu segala urusannya diambil alih oleh Allah” , “Barang siapa yang Ikhlas urusannya Aku ambil alih”. Begitu kata-kata yang saya dengar dari seorang Kawan, beliau mengambilnya (saya lupa lagi) entah dari hadist atw dari Qur’an. Kata-kata itu begitu membekas dalam hati saya, teringat dengan berbagai macam keajaiban yang selama ini saya alami ketika saya belajar untuk ikhlas. Terutama dalam hal Rejeki atau materi…. Yang terpenting saya benar-benar ikhlas menjalani pekerjaan saya, ikhlas menerima berapapun rejeki yang saya terima dari hasil kerja saya dan suami, ikhlas menjalani kehidupan ini dan yang terpenting saya menghilangkan semua rasa cemas, rasa was-was dan khawatir yang sebenarnya hal kecil yang dapat merusak keyakinan kita pada Allah tentang janji-Nya bahwa Dia kan mencukupkan Rejeki bagi umatnya.

- Susu Noni
Malam itu uang yang tersisa di dompet saya tinggal Rp 3000,- kebetulan malam itu susu anak saya hanya cukup untuk besok pagi, harganya Rp 51.000. Kebetulan juga suami saya sedang bekerja di Jakarta dan belum mengirimkan uang. Malam itu saya berpikir, bagaimana besok membeli susu , dari mana uangnya? Tetapi cepat-cepat saya istigfar dan menghilangkan kecemasan itu lalu berdoa ya Allah aku serahkan semua urusanku pada-Mu dan aku yakin kau akan memberikan Rejeki.
Esok paginya saya pergi ke kantor, tiba2 sudah ada dua pasien yang datang minta dipijit, kemudian datang lagi seorang pasien, jadi pagi itu saya menangani 3 pasien, dan dari ketiga pasien tersebut total uang yg saya terima Rp 48.000. Setelah dihitung dengan uang yang saya punya di dompet jadi total uang yang saya terima adalah 51.000 dan itu benar-benar pas untuk memebeli susu anak saya. Subhanallah, Maha Suci Allah yang Maha mengetahui kebutuhan hambanya dan itu pasti akan dicukupkan.

- Sepatu Noni
Rasanya ingin sekali memebelikan sepatu untuk anak saya, kasian sekali dia tidak punya sepatu, tapi apa daya uangnya belum ada, saya hanya bisa berdoa dlm hati, Ya Allah Mudah-mudahan nanti ada rejeki untuk membeli sepatu noni. Kalau memaksakan kehendak atau mengikui hawa nafsu bisa saja saya pinjam uang dulu atau memakai uang untuk belanja sehari-hari tetapi saya tidak mau mengikuti hawa nafsu saya. Dua hari kemudian ibu saya pulang dari Bogor membawa dua pasang sepatu dari kakak saya yang tinggal di Bogor, “ ini ada sepatu dari teteh, katanya untuk noni” padahal saya belum bercerita pada siapapun bahwa saya ingin membeli sepatu untuk anak saya. Subhanallah.

- Parfum habis
Hari itu pagi-pagi sekali saya harus berangkat ke Jakarta untuk mengisi acara disana, ketika bersiap-siap pergi dan saya ingin menyemprotkan parfum, parfumnya habis. Lalu saya berkata dalam hati “ Ya Allah parfum saya habis, mudah-mudahan ada rejeki untuk membeli parfum”. Lalu saya berangkat ke Jakarta. Sesampainya disana saya bertemu seorang kerabat yang biasa di panggil Bunda, kemudian dia berkata “ Mbak Odhie, tadi malem bunda jalan2 terus Bunda belin Parfum buat Mbak Odhie” dalam hati saya bertanya : “what?????” gak salah??? Tadi pagi kan aku pengen beli parfum??? Ya Allah, Terimakasih.. Subhanallah.

- Bayar Cicilan
Tiba saatnya saya harus membayar cicilan pada hari Sabtu, tapi uangnya belum ada. Tapi saya tidak cemas karena saya yakin pada saatnya jatuh tempo pasti ada Rejekinnya. Hari itu hari kamis, teman saya tiba2 menelpon dan mengajak bertemu untuk membicarakan order video shooting perkawinannya. Singakat cerita kami bertemu di sebuah mall, akhirnya setelah deal dia memberikan uang. Bisanya orang yg order video shooting hanya memeberikan uang muka saja, tetapi dia memberikan tidak hanya uang muka saja, tetapi hari itu juga dilunasi seluruh biayanya. Saya benar-benar kaget dan tidak menyangka, akhirnya pada sat jatuh tempo bisa juga saya membayar cicilan. Subhanallah.

Jadi nikmat manalagi yang akan kau dustakan? Sejauh mana keyakinan kita pada Janji-Nya? Masihkah kita diliputi rasa cemas? Khawatir? Was-was? Yang sebenarnya hal-hal itulah yang menutup pintu rejeki kita, karena berarti kita masih ada keraguan,dan masih suuzon Kepada-Nya.

By Rosdiani Fitriyanti/Genteng