Tampilkan postingan dengan label Inspirations. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirations. Tampilkan semua postingan

Persaudaraan

Dua bersaudara, mendapat warisan tanah ladang yang subur, yang seorang membujang, yang lain telah menikah.

Semua berjalan baik pada awal. Lalu, terkadang saja, orang yang kawin mulai bangun terjaga dari tidurnya di waktu malam dan berpikir. Ini tidak adil. Saudaraku tidak kawin dan ia mendapatkan separoh hasil ladang. Di sini aku dengan Istri dan lima anak, jadi aku terjamin aman di masa tua. Tetapi siapa yang menjaga saudaraku celaka nanti, kalau ia jadi tua? Ia harus menyimpan lebih banyak bagi masa depan daripada sekarang, maka kebutuhannya jelas lebih besar dari pada saya.
Lalu ia bangun tidur, diam-diam menyelinap ke tempat saudaranya dan memasukkan sekarung gandum dalam lumbung saudaranya.

Si bujang mendapatkan ilham sama di waktu malam juga. Kadang-kadang ia bangun dari tidurnya dan berkata pada dirinya: "Ini jelas tidak adil. Saudaraku punya istri dan lima anak dan ia mendapat separoh hasil tanah. Dan aku tidak punya tanggungan selain diriku sendiri. Maka tidak wajar saudaraku miskin, karena kebutuhannya jelas lebih besar dari saya, dia harus menerima lebih banyak daripada saya."
Lalu ia keluar dari tempat tidurnya dan memasukkan sekarung gandum di lumbung saudaranya.

Pada suatu hari mereka bangun tidur pada waktu sama, dan lari bertabrakan, masing-masing menggendong sekarung gandum!



DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ

Give Thanks !

Just think about their life face to face ours!
We are so lucky lots of thanks to God for His mercy and benovelence bestow upon all of us and our family.But, the trick is “never feel complacence with what we have and enjoy” Keep on pushing to limit coz “when the going get tough, only the tough get going!” This is true and applicable in whatever situation – be it in life, family, work, friendship, marriage, etc

JUST A THAT' F
OR US TO APPRECIATE THE 'LUCKY' LIFE WE HAVE........ ..

If you think you are unhappy, look at them?










If you think your salary is low, how about her?











If you think you don't have many friends...














If you think study is a burden, how about her?












When you feel like giving up, think of this man













If you think you suffer in life, do you suffer as much as he does?













If you complain about your transport system, how about them?












If your society is unfair to you, how about her?


















Enjoy life how it is and as it comes

Things are worse for others and is a lot better for us
There are many things in your life that will catch your eye
but only a few will catch your heart....
pursue those....

PRIA ITU MEMANG SUSAH!

Jika kamu memperlakukannya dengan baik, dia pikir kamu jatuh cinta padanya.. Jika tidak, kamu akan dibilang sombong. Jika kamu berpakaian bagus, dia pikir kamu sedang mencoba untuk menggodanya. Jika tidak, dia bilang kamu kampungan.

Jika kamu berdebat dengannya, dia bilang kamu keras kepala. Jika kamu tetap diam, dia bilang kamu nggak punya otak. Jika kamu lebih pintar dari pada dia, dia akan kehilangan muka.. Jika dia yang lebih pintar, dia bilang dia paling hebat.

Jika kamu tidak cinta padanya, dia akan mencoba mendapatkanmu. Jika kamu mencintainya, dia akan mencoba untuk meninggalkanmu. Jika kamu beritahu dia masalah mu, dia bilang kamu menyusahkan. Jika tidak, dia bilang kamu tidak mempercayai mereka.

Jika kamu cerewet pada dia, kamu dibilang seperti seorang pengasuh baginya. Tapi jika dia yang cerewet ke kamu, itu karena dia perhatian. Jika kamu langgar janji kamu, kamu tidak bisa dipercaya. Jika dia yang ingkari janjinya, dia melakukannya karena terpaksa.

Jika kamu merokok, kamu adalah cewek liar! Tapi kalo dia yang merokok, dia adalah seorang gentleman, wuiihh..! Jika kamu menyakitinya, kamu dibilang perempuan kejam.. Tapi jika dia yang menyakitimu, itu karena kamu terlalu sensitif dan terlalu sulit untuk dibuat bahagia !!!!!

Jika kamu mengirimkan ini pada cowok-cowok, mereka pasti bersumpah kalau ini tidak benar. Tapi jika kamu tidak mengirimkan ini pada mereka, mereka akan bilang kamu egois.

Jadi.. Kirimkan ini pada semua teman lelakimu di luar sana dan juga pada semua teman cewekmu untuk berbagi tawa bersama..


By Zulphiandie/Sang (Mailing List Smatoebdg)

WANITA MEMANG SUSAH DIBUAT "BAHAGIA"

Jika dikatakan cantik dikira menggoda , jika dibilang jelek di sangka menghina.. Bila dibilang lemah dia protes, bila dibilang perkasa dia nangis.

Maunya emansipasi, tapi disuruh benerin genteng, nolak(sambil ngomel “masa disamakan dengan cowok?”). Maunya emansipasi, tapi disuruh berdiri di bis malah cemberut (sambil ngomel, “egois amat sih cowok ini tidak punya perasaan!”)

Jika di tanyakan siapa yang paling di banggakan, kebanyakan bilang Ibunya, tapi kenapa ya? Lebih bangga jadi wanita karir, padahal ibunya adalah ibu rumah tangga.

Bila kesalahannya diingatkankan, mukanya merah.. Bila di ajari mukanya merah.. Bila di sanjung mukanya merah, jika marah mukanya merah, kok sama semua?

Bingung !!

Ditanya ya atau tidak, jawabnya: diam, ditanya tidak atau ya, jawabnya: diam, ditanya ya atau ya, jawabnya: diam, ditanya tidak atau tidak, jawabnya: diam, ketika didiamkan malah marah (repot kita disuruh jadi dukun yang bisa nebak jawabannya).

Di bilang ceriwis marah, dibilang berisik ngambek, dibilang banyak mulut tersinggung, tapi kalau dibilang S u p e l wadow seneng banget.. padahal sama saja maksudnya.

Dibilang gemuk, enggak senang padahal maksud kita sehat gitu lho, dibilang kurus malah senang padahal maksud kita "kenapa loe jadi begini??!!!"

Itulah WANITA makin kita bingung makin senang DIA!


By Zulphiandie/Sang (Mailing List Smatoebdg)

Gardu Penolong

Di suatu pantai dengan tebing terjal, dimana kapal karam kerap terjadi. Ada gardu penolong bagi mereka yang mendapat kecelakaan. Gardu ini tidak lebih dari gubuk dan hanya mempunyai satu perahu penyelamat saja. Tetapi orang-orang yang mendiami gardu itu merupakan kelompok yang selalu siap siaga dalam usaha penyelamatan, mengawasi laut, tak peduli akan hidup dan kesejahteraannya, keluar menerjang badai jika ada kapal karam. Dengan demikian banyak orang yang tertolong dan gardu penolong itu menjadi masyur.

Ketika gardu itu menjadi terkenal. Banyak orang yang berkeinginan menjadi anggota dalam karya mulya itu. Dengan relamereka menyediakan waktu dan uang. Anggota baru diterima, kapal baru dibeli, awak baru dilantik. Gubug diganti menjadi gedung yang sesuai sehingga dapat dan layak mengurusi kebutuhan mereka yang diselamatkan di laut.Tapi kapal karam tidak terjadi tiap hari. Dan akhirnya tempat itu hanya menjadi tempat berkumpul saja.

Dengan berjalannya waktu. Para anggota begitu terlibat dalam kesenangan, hingga mereka kurang berminat lagi untuk menolong. Meskipun mereka terlihat seperti kelompok penolong dengan semboyan yang menempel pada tanda pengenalnya. Sebetulnya, setiap kali ada kecelakaan itu merupakan suatu kerepotan, sebab bakal membuat capai dan bahkan akan mengotori lantai yang berkarpet, meja dan kursi. Akhirnya kegiatan sosial kelompok itu bertambah banyak, sedangkan tugas penyelamatan begitu sedikit, sehingga ada unjuk kekuatan pada setiap pertemuan kelompok. Ada yang berbicara bahwa kelompok harus kembali pada tujuan dan kegiatan semula. Ada yang berpendapat, biarlah kelompok ini berjalan seperti yang terjadi saat ini. Bahkan ada pula yang mengusulkan, kelompok ini harus dikembangkan lebih jauh dengan lebih banyak penambahan orang dan kegiatan yang lainnya dengan merubah total seluruh visi dan misi awal agar kelompok ini semakin terkenal.

Kemudian....
Beberapa orang yang mengusulkan untuk kembali pada tujuan semula itu menyingkir. Dan mereka membuat regu penolong di tempat lain yang jauh dari kelompok yang sekarang sudah menjadi besar itu. Dengan terus melanjutkan pertolongan yang biasa mereka lakukan seperti dulu.

Aku menangis enam kali!

Aku dilahirkan di kota kecil. Orang tuaku hanya buruh kecil dengan pendapatan tak seberapa. Aku mempunyai seorang kakak lelaki, tiga tahun lebih tua dariku.

Tangisan pertama
Suatu ketika, sebuah jepit rambut mencuri perhatianku. Bentuknya manis dan lucu. Seperti yang dikenakan oleh teman-teman di sekolahku. Keinginan untuk memilikinya begtu kuat. Sehingga aku nekat mencuri uang ayahku sebesar lima ribu rupiah dari laci lemari pakaiannya, untuk segera membeli jepit rambut yang dijajakan itu. Tapi ayah mengetahui uangnya hilang. dengan sebilah rotan dia segera memanggil aku dan kakakku untuk mencari tahu siapa yang mencuri uangnya, "Siapa yang mencuri uang itu?"tanyanya.
Aku terpaku, karena terlalu takut untuk berbicara. Karena ayah tidak mendengar pengakuan dari kami, dia mengatakan: "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dihajar!"
Dia mengangkat tongkat rotan itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, kakakku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang mengambilnya!"

Tongkat rotan menghantam punggung kakakku bertubi-tubi. Ayah begitu marah sehingga ia terus menerus memukuli kakakku sampai kehabisan nafas. Sesudah itu, sambil duduk diatas bangku butut, ia kembali memarahi kakakku: "Kamu sudah jadi pencuri sekarang. Hal yang sangat memalukan. Bagaimana nanti jika di masa mendatang. Tentunya kau akan menjadi perampok! Tidak tahu malu!"

Malamnya, aku dan ibuku memeluk kakakku. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi dia tidak meneteskan air mata setetespun. Di tengah malam, aku mulai menangis, sejadi-jadinya. Tapi tangan kakakku segera menutup mulutku seraya berkata, "Sudahlah jangan menangis.Semuanya sudah terjadi."

Aku membenci diriku sendiri karena tidak cukup punya keberanian untuk mengakui perbuatanku. Tahun demi tahun telah berlalu, tapi insiden itu masih tergambar jelas. Aku tidak pernah lupa wajah kakakku ketika menghadapi hukuman itu untuk melindungiku. Waktu itu aku berusia 8 tahun dan kakakku 11 tahun.

Tangisan kedua
Ketika kakakku lulus dari SMA nya dan ia berniat untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas. Begitupun aku yang lulus dari SMP dan berniat pula untuk melanjutkan ke SMA. Kami mendengar pembicaraan kedua orang tua kami :
"Kedua anak kita pendidikannya telah memberikan hasil yang baik", kata ayah.
"Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita tak bisa membiayaikeduanya sekaligus." timpal ibu.
"Akan aku coba mengusahakan agar kedua anak kita bisa melanjutkan sekolahnya."kata ayah.

Saat itu juga, kakakku menghampiri kedua orang tua kami dan berkata:
"Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Sepertinya aku telah cukup mendapatkan ilmu."
Tanpa dinyana ayah menampar kakakku, sambil berkata: "Mengapa kau mempunyai jiwa yang lemah?Aku akan berusaha untuk mencari uang untuk membiayai kau dan adikmu unruk tetap bersekolah. Jika aku perlu aku akan mengemis di jalanan. Anak laki-lakiku hatus meneruskan sekolah. Agar kita semua bisa keluar dari jurang kemiskinan ini."

Setelah melihat adegan tadi, diam-diam akupun memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahku. Sampai pada keesokan hari, aku tak mendapati kakaku di rumah. Rupanya dia pergi meninggalkan rumah dan dia meninggalkan secarik kertas bertuliskan: "Masuk ke perguruan tinggi tidak mudah dan tidak murah. Aku pergi mencari kerja dan akan mengirimi kau uang agar kau bisa terus sekolah."

Aku memegang kertas itu di atas tempat tidurku dan menangis dengan air mata bercucuran membasahi bantalku. Suaraku hilang. Waktu itu aku berusia 17 tahun dan kakakku 20 tahun.

Tangisan ketiga

Dengan uang bekal yang diberikan ayah dan kiriman dari kakakku yang sekarang bekerja di perusahaan konstruksi di kota besar. Akhirnya aku bisa kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Suatu hari, aku sedang belajar di kamar kostku., ketika temanku memberitahukan,
"Ada seorang penduduk desa menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada penduduk desa mencariku?Siapa dia? Aku berjalan keluar kamar dan melihat seseorang yang berpakaian lusuh. Seluruh badannya kotor kotor penuh debu. setelah melihat lebih dekat, ternyata kakakku, "Mengapa kau tidak bilang pada temanku bahwa kau kakakku?"
Dia menjawab sambil tersenyum, " Lihat penampilanku. Apa yang mereka pikir jika mereka tahu aku adalah kakakmu? Pasti mereka akan menertawakanmu."

Aku terenyuh. Air mata memenuhi mataku. Aku segera menyapu debu-debu dari tubuh kakakku, dan berkata dengan tersendat-sendat,"Aku tidak peduli omongan siapapun!Kau adalah kakakku. apapun dan bagaimanapun penampilanmu."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku dan menjelaskan, "Aku melihat melihat semua gadis-gadis kota memakainya. Jadi aku pikir adikku harus memakainya juga." Aku tidak dapat menahan diriku lebih lama lagi. Aku memeluk kakakku lalu menangis dan menangis. Waktu itu aku berusia 21 tahun dan kakakku 24 tahun.

Tangisan keempat
Ketika musim liburan tiba, aku pulang ke rumah diantar oleh pacarku. Kulihat kakakku pun berada disana dengan tangan terbalut saputangan karena luka. Rumahku sekarang bersih sekali. Kaca jendela yang pecah yang terbengkalai sekian lama sudah kembali bagus. Ibu sudah bekerja keras untuk membenahi rumah ini untuk menyambut kepulangan kami, pikirku. Setelah memperkenalkan pacarku pada ibu dan kakakku. Ia harus kembali pulang ke kota. Aku ditinggal sendiri menghabiskan masa liburanku, "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk membersihkan rumah ini bagi kedatangan kami." Tetapi ibu menimpali sambil tersenyum, " Kakakmulah yang mengerjakan ini semua. Dia sengaja pulang lebih awal dari kamu. Untuk membersihkan rumah. Sampai tangannya terluka ketika memasang kaca jendela yang pecah itu. Tidakkah kau melihat luka yang ada pada tangan kakakmu?"

Aku segera menemui kakakku. Melihat wajahnya yang kurus segera aku mengambil perban dan tangan kakakku. Ku campakan sapu tangan yang membalut tangannya yang luka. Ku ambil salep antiseptik dan segera ku bungkus luka itu dengan perban.
"Apakah tanganmu tidak sakit?", tanyaku.
"Ah, tidak sakit. Ini tidak seberapa. Kamu tahu, di tempatku bekerja, batu-batu berjatuhan setiap saat. Bahkan pernah pada suatu ketika jatuh menimpa kakiku dan kepalaku.. Itu tidak menghentikanku bekerja dan......" Ia menghentikan bicaranya ketika dilihatnya aku memunggunginya dan air mataku deras mengalir ke wajahku. Dia berlalu seraya memegang kepalaku. Waktu itu usiaku 23 tahun dan kakakku 26 tahun.

Tangisan kelima
Akhirnya aku mendahului kakakku untuk menikah. dan aku tinggal di kota. Berulang kali aku dan suamiku mengajak kedua orang tuaku untuk tinggal bersamaku di kota, tetapi mereka menolak. Karena mereka tidak mau meninggalkan desa tempat hidup mereka. Kakakkupun juga tidak setuju. Ia berkata, " Jagalah mertuamu. Biar aku yang menjaga ibu dan ayah disini."

Suamiku menjadi Direktur di pabriknya. kami menginginkan kakakku mendapatkan pekerjaan yang layak sebagai Manajer pada Departemen Pemeliharaan. Tetapi kakakku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras akan memulai usaha sendiri sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, kakakku mendapat kecelakaan ketika sedang memperbaiki rumah langganannya. Ia harus masuk rumah sakit. Aku bersama suamiku segera menjenguknya. Melihat tangan yang di gips, aku menggerutu, "Mengapa kau menolak menjadi manajer?Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, lukamu begitu serius. Mengapa kau tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan wajah serius, ia membela keputusannya, "Pikirkan suamimu, ia baru saja menjadi direktur, sedangkan aku hanya orang yang tidak berpendidikan. Jika aku menjadi manajer hanya karena aku kakak iparnya. Apa nanti kata orang?" Mataku dipenuhi airmata dan kemudian keluar kata-kataku yang terpatah-patah: "Kau kurang pendidikan juga karena aku!". Lalu kata kakakku :"Mengapa membicarakan yang sudah berlalu?". Waktu itu aku berusia 27 tahun dan kakakku 30 tahun.

Tangisan keenam
Kakakku menikah dengan gadis petani di desaku. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Bahkan tanpa berpikir panjang ia menjawab, "Adikku." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan sudah tidak ku ingat lagi.
"Ketika sekolah dulu, biasanya setiap hari Senin selalu diadakan upacara bendera. Dan aku kebagian menjadi petugas upacara itu. Kami semua diwajibkan memakai seragam lengkap. Kemeja putih, celana merah topi merah, dasi merah, sepatu hitam dan kaos kaki putih. Jika tidak mengenakan seragam itu tentunya akan mendapat hukuman. Pada saat itu dasi yang kupunya hilang entah kemana. Dan pada saat itu pula adikku menyodorkan dasi kepunyaannya padaku, katanya aku lebih memerlukannya. Tapi rupanya kewajiban memakai seragam lengkap itu bukan untuk petugas upacara saja tetapi juga untuk seluruh peserta upacara. Dan adikku tahu akan hal ini. Adikku mendapat hukuman dari sekolah karena ia tidak memakai dasi sebagai bagian dari seragam sekolah. Ku lihat dia di hukum dengan dijemur di tengah lapangan sendirian. Dia begitu kelelahan dan dia tidak menangis. Sejak hari itu, aku berjanji, selama aku masih hidup aku akan menjaga adikku dan baik kepadanya."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah keluar dari mulutku,
"Dalam hidupku, orang yang paling layak mendapat terima kasihku adalah kakakku!".Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,di depan kerumunan perayaan ini air mata bercucuran dari mataku seperti sungai.Waktu itu usiaku 30 tahun dan usia kakakku 33 tahun.

Menanam pohon mangga

Ketika musim penghujan tiba. Seorang tua menggali lubang di halaman belakang rumahnya.

"Apa yang kau kerjakan?" tanya seorang tetangganya.

"Sedang menanam pohon mangga" jawabnya.

"Apakah mengharapkan dapat memakan buah dari pohon yang kau tanam itu?"sambung tetangganya lagi.

"Tidak. Saya tidak akan menunggu sebegitu lama untuk itu. Tetapi orang lain setelah aku yang akan memakannya.Itu telah aku nikmati pada waktu yang berlainan, bahwa mangga yang aku nikmati sepanjang hidupku itu telah ditanam oleh orang lain sebelum aku. Dan inilah bentuk ungkapan terima kasihku kepada mereka".

(de Mello)

Masa Sulit

Seseorang mengalami masa sulit.
Maka ia mulai berdoa cara berikut:

"Tuhan, ingatlah tahun-tahun yang sudah lewat
aku mengabdi-Mu sebaik mungkin, tidak minta apa-apa sebagai balasan.
Sekarang aku sudah tua, bangkrut lagi.
Sekarang aku memohon kebajikanMu untuk pertama kalinya
di dalam hidupku dan aku yakin Engkau tidak akan berkata Tidak:
Biarlah aku menang lotre."

Hari lewat... lalu minggu...lalu bulan.
Tetapi tak terjadi sesuatu.
Akhirnya, hampir-hampir putus asa, ia berteriak :
"Mengapa aku tidakk Kau beri kesempatan
agar aku tidak sengsara. Biarkan aku menang lotre, Tuhan!"

Tiba-tiba terdengar suara Tuhan menjawab :
"Aku ingin membantumu.Berilah aku kesempatan juga.
Beli dulu lotrenya!"


(De Mello)

Jejak Langkah

Suatu hari aku berjalan di pantai bersama Tuhan.

Pada setiap episode perjalanananku yang penuh dengan anugrah yang diberikanNya untukku.
Ku lihat dua pasang jejak kaki di hamparan pasir di pantai. Sepasang jejak kakiku dan sepasang lagi jejak kaki Tuhan.

Tetapi....

Ketika episode kelam dalam kehidupanku, aku melihat hanya ada sepasang jejak kaki saja di pasir pantai.Tuhan telah meninggalkanku....Lalu aku bertanya kepada Tuhan: "Tuhan, mengapa kau meninggalkanku di saat aku sangat membutuhkanmu!"

Kata Tuhan :

"Kau begitu istimewa. Aku tak pernah meninggalkanmu di kala kekelaman melanda hari-harimu. Jika kau hanya melihat sepasang jejak kaki saja di pantai...itu karena Aku menggendongmu!"