Tampilkan postingan dengan label Angkatan Skandal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkatan Skandal. Tampilkan semua postingan

Restless

I'm not a saint, I could never stop a rain.
My words are not wisdom and maybe i would never belong under the dome.
But allow me to love you even if it's a love of a sinner.
Let me comeback to you even if it's like the ocean comeback to shore.
Though my thread is thin please don't leave me behind.
Coz i have sinned and without you I will not be fine.

Bandung, 20 Juli 2010



By : Arum Sekarwangi Tunjungsari / Angkatan Skandal

Untukmu sahabatku..





Apa kamu baik-baik saja kawan? Tak lagi ku dengar kabarmu sejak terakhir kita berbincang melalui kiriman pesan-pesan hidup di layar laptopku. Kemarin beberapa kali kamu coba menghubungi aku, sayang sinyal telepon genggam kita ternyata sedang menyebalkan. Tak satu pun nomor kita yang bisa dihubungi. Akhirnya kamu menggutarakan maksudmu di pesan-pesan hidup itu. Kamu mengajak aku dan lelakiku untuk bertemu malam itu, menghabiskan waktu bersama.

Dari perbincangan kita sepertinya ada yang sedang mengusik hati dan pikiranmu. Terlebih setelah aku membaca status yang kamu pasang di salah satu jejaring sosial yang tak pernah sekali pun aku alpa untuk sekedar membukanya. Aku kemudian menyanggupi untuk bertemu malam itu. Kebetulan aku juga butuh mendinginkan otak dan hatiku, dan udara malam terkadang bisa sangat membantu.

Aku telah mempersiapkan semangkuk tawa untuk sekedar menghiburmu. Memang sering kali saat kita bertiga; kamu, aku dan lelakiku, berkumpul selalu saja aku yang dijadikan objek penderita. Kalian bertiga berkoalisi untuk mengerjaiku. Tapi tak mengapa. Aku sama sekali tidak keberatan. Terutama jika itu bisa membuat kalian bahagia. Tak ada rasa tersinggung atau marah, karena aku tahu itu semua hanya candaan dan mungkin itulah salah satu bentuk sayang kalian terhadapku. Dua lelaki, yang satu lelakiku dan satu sahabat baikku.

Tapi rencana hanya tinggal rencana. Semua tidak berjalan mulus malam itu. Lelakiku tidak datang. Dia tertidur karena sakit dan aku tidak tahu itu. Egoku mengatakan dia telah mengingkari janjinya dan aku kecewa. Kami terlibat sedikit salah paham dan aku hanya bisa menangis. Waktu terus berdetak. Aku teringat janjiku untuk menemanimu malam itu. Dalam isak tertahan aku mencoba menghubungimu lewat telfon. Sayang, tak ada jawaban. Akhirnya aku kirimkan beberapa pesan singkat ke ponselmu. Tak juga ada balasan.

Malam itu aku menangis sejadi-jadinya. Aku kecewa karena lelakiku mengingkari janjinya dan mengabaikan semua pesan singkat yang aku kirimkan. Aku kecewa karena tak bisa temani sahabatku saat ia sedang gundah. Aku khawatir kamu kembali melakukan hal bodoh. Malam itu, tak sedikitpun mataku bisa terpejam.

Keesokan harinya, aku merasa gagal. Aku tak bisa menyajikan secawan tawa untuk lelakiku dan semangkuk lainnya untukmu. Aku merasa sendiri dan aku mengkhawatirkanmu. Berkali aku mencoba menghubungi ponselmu dan berkali pula aku mendengar suara operator yang memberitahu nomer ponselmu sedang tidak aktif. Aku semakin khawatir.

Malam ini, semua kesalahpahaman dengan lelakiku sudah terselesaikan. Tapi kekhawatiranku padamu tetap tak berkurang. Maish saja kamu menghilang. Tak sekalipun aku melihatmu online di situs jejaring sosail yang aku kunjungi. Ponselmu pun masih tak bisa dihubungi.

Kawan, apa kamu baik-baik saja? Aku tidak bisa tahu apa yang tengah kau lalui saat ini. Aku tidak tahu apa yang mengusik hati dan pikiranmu saat ini. Tapi jangan khawatir, aku juga tidak akan memaksamu untuk bercerita. Aku hanya akan ada di sini. Aku akan ada di sini di saat kamu butuh telinga untuk mendengarkan semua keluh kesahmu. Aku akan ada di sini saat kamu butuh secangkir teh untuk temani sore harimu. Aku akan selalu ada di sini kapanpun kamu membutuhkan seorang sahabat.

Aku hanya ingin kamu tahu bahwa semua akan baik-baik saja. Tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya. Dan kamu tidak sendiri. Hidup tidak selalu indah, tapi jangan pernah menyerah kawan! Aku percaya kamu akan bisa melalui semua masalahmu dengan baik. Aku percaya kamu akan baik-baik saja.
^_^



By:Dini Nurdiyanti/Skandal

where the fire goes?


pada awalnya sebuah gagasan terbentang

bahwa kehangatan api mampu:
membuat ruang jiwa menjadi hangat temaram,
mengubah tunas-tunas rasa menjadi cerita cita menyatu,
membakar ilalang hati dan membentuk persemayaman baru..

namun entah mengapa:
ruang jiwa selalu terancam oleh dinginnya malam,
tunas-tunas rasa itu tak selalu semuanya bersemi,
dan ilalang hati pun selalu datang tanpa ditabur..

seharusnya aku terus mencoba:
membuka jendela diri dalam komunikasi pada mentari,
menyirami rasa itu dengan kasih sayang embun pagi,
mendasari hati dengan perhatian dan sukacita..

lalu, kenapa api itu tetap pergi?
kemana perginya percikan api itu?

mungkinkah itu terjadi karena aku:
terlena menutup rapat dari hembusan angin malam..?
terlalu banyak titik embun hingga jenuh tergenang..?
membangun alas yang tak lebih kuat dari akar penggangu..?

apakah benar hanya aku?
tidakkah akan lebih kuat bila pilar dan genting menyatu kokoh?
tidakkah aku memilih menjaga keindahan taman untuk kesegaran engakau dan aku?
tidakkah keyakinan ini telah aku bangun bahkan sebelum sepotong batu pun ku letakkan?

mari.. sambut tanganku,
mari.. ciptakan kehangatan itu,
dari sentuhan tangan kita yang kosong..
dengan hati yang jernih..
dan pikiran yang ingin..



NB: ditulis sambil diiringi lagu Summertime - Janis Joplin



 By : Hendrik J Silitonga/Skandal

Antara kata, nyata, dan ketidakpastian..

Untaian kata yang biasa ku rangkai tak lagi bisa mengalir. Sudah terlalu banyak kata yang terucap dalam nyata dan sebanyak itu pula senyum dan tangisku terurai. Semua kisah yang kita jalani dalam keanomalian, sedikit demi sedikit mengurai rasa. Entah apa maksud sang waktu pertemukan kita saat semuanya ada dalam ketidakpastian. Tak pernah ada yang pasti bahkan hingga saat 'dia' mengetuk bathinmu jauh sebelum aku mengetahui 'dia' ada.

Tak ada lagi rangkaian kata indah yang biasa kau tulis untukku. Entah via sms, inbox di e-mailku via akun mailmu yang kau pakai hanya untuk mengirim e-mail padaku atau dalam blog rahasiamu yang hanya segelintir orang yang tahu. Saat aku pertanyakan, kau hanya bilang' bukan tak lagi ada kata.. hanya ingin lebih memberimu nyata'. Nyata itu memang hadir.. terlebih setelah 'dia' mengusik sanubarimu, jauh sebelum aku tahu 'dia' ada. Nyata itu hadir walau masih dalam ketidakpastian yang sama.

Rangkaian kata itu seolah menguap seiring kebersamaan kita dalam nyata. Berkali aku mencoba mewakilkan apa yang ada di benak ini dengan mengutip lirik lagu yang belakangan sering sekali mendendang di otakku, aku kirimkan via e-mail dan entah mengapa aku merasa e-mail itu hanya berakhir di kotak 'trash' mu.Berkali kau bilang kau mencoba merangkai kembali kata-katamu, tapi akhirnya dengan satu tekan pada tombol delete di tuts keyboardmu, kata-kata itu kembali hilang tak berjejak. Kata sepertinya tak lagi bermakna dalam tulisan. Kini kata lebih berarti dalam ucapan.. dalam nyata walau dengan ketidakpastian.

Kau dan aku sama. Berusaha merangkai kata untuk menjadi nyata hingga terlahir sebuah kepastian. Tapi lagi-lagi keadaan mengaburkan semuanya. Tak lagi ada kata, hanya ada nyata dalam ketidakpastian.

Tapi di antara kata, nyata dan ketidakpastian yang telah terangkai dan hadir, aku berharap masih ada satu harap yang bisa tersulam. Semoga suatu saat kepastian itu ada menghias indah hari-hari yang akan kita jalani..

*bahkan di saat seperti ini pun rangkaian kata yang ku buat terasa janggal.. tak beraturan dan aneh..

*aku hilang bentuk*


By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Nomor yang anda tuju sedang sibuk,...

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

lima menit kemudian..

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

sepuluh menit kemudian..

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

Jari-jari itu mulai menari lincah diatas tuts handphonenya. "msh nlp ya? Mau pulang jam brp?" akhirnya sebuah sms dikirimkan. Lima menit kemudian, sepuluh menit kemudian masih tak ada balasan. Sosok kecil itu mulai gelisah. Ujung matanya sebentar-sebentar melirik ke arah jam dinding di dekat pintu kamarnya.

Sudah hampir satu jam, ia kembali menekan tombol redial di handphonenya.

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

Huuffth.. masih juga. Entah apa yang sedang mereka bicarakan di telfon. Ia berusaha untuk tenang, tapi tak urung pikirannya gelisah. Ia tahu dengan siapa lelaki itu berbicara. Ada sedikit rasa cemburu yang mengusik hatinya, tapi ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan. Sayang, tak ada yang bisa menahan jari-jarinya untuk kembali bermain di atas tuts handphonenya. "hmmmm.." bukan sebuah kata, hanya sebuah ekspresi yang ia kirimkan melalui sms.

Sepuluh menit kemudian.. masih belum ada balasan atas sms-smsnya. Dua puluh menit kemudian..

"nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!"

Ia mulai sedikit terusik. Kesal mulai datang tapi kemudian luruh saat matanya tertuju pada layar laptop yang menyala sedari tadi. Ada foto lelaki itu di sana. Lelaki yang selalu ia nantikan kedatangannya. Lelaki yang selalu membuatnya merasa nyaman hanya dengan berada di dekatnya. Lelaki yang selalu ia rindukan senyumnya. Dan ia pun tersenyum. Ia tahu lelaki itu akan datang. Ia akan kembali kepadanya.

Handphonenya menyala. Sebuah sms dari sang lelaki :
"Sebentar lagi juga ayah pulang, Yang. Bunda jangan manyun ya.."

Akhirnya.. lelaki itu akan datang, dan itu telah meluruhkan semua kesal dan cemburunya. Dia akan pulang, dan itu cukup untuknya. Penantian panjang itu sepertinya tak lagi menjadi masalah.

Well, begitulah cinta. Hanya dengan melihat sebuah senyuman meski hanya dalam sebuah foto, semua lelah dan kesal sepertinya luruh seketika..
Begitulah cinta.. ia akan dengan mudah memaafkan meski tlah menoreh luka berkali-kali..
The power of love..

*aku hilang bentuk*


By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Harga sebuah penghargaan

Menghargai yang tidak disukai adalah pengertian,
menghargai yang disayangi adalah perhatian,
pengertian dan perhatian adalah wujud menghargai,
baik suka maupun tidak!
Kata...
sikap...
tawa...
pikir....
adalah wujud penghargaan mu..
dan penghargaan menentukan nilai mu..
nilai mu menjadikan penghargaan ku..


By:Hendrik Silitonga/Skandal

Episode Malam-Malam Diana __ Final Chapter

Malam ini langit tampak gersang. Tak ada bulan atau pun bintang bahkan awan berarak sekali pun. Angin malam pun seolah enggan bertiup, mungkin ia enggan meniupkan kesedihan di malam ini. Sudah hampir dua minggu lamanya Diana terbaring dalam ruangan serba putih itu. Tak ada tanda-tanda kesadaran menghampirinya. Semua keheningan seolah bertumpuk di sana, satu-satunya suara yang ada hanya dari alat pacu jantung yang terpasang di dada Diana. Diana masih enggan untuk menggapai kesadarannya.

Ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Jika biasanya dua pria itu berada di dua ruangan yang berbeda, kali ini mereka duduk berhadapan, berseberangan. Sama-sama terduduk di samping Diana, menatap tubuh ringkih yang kini tergeletak tak berdaya namun tampak penuh kedamaian. Mereka sama-sama berharap mata itu akan terbuka, jari jemari itu akan bergerak perlahan dan senyum akan kembali terkembang di wajah ayu itu. mereka menunggu dengan sabar, mencoba berdamai dengan keadaan dan ke-absurd-an yang tercipta di antara mereka.

Sore itu, entah kenapa Tian akhirnya tergerak untuk mencari tahu siapa pria yang selalu ada di sana. Setiap hari saat siang menuju sore sampai malam, hingga menjelang dini hari, ia selalu berdiri memandangi sosok tubuh Diana di balik kaca jendela itu. Matanya memancarkan sorot yang sangat sulit dimengerti. Seperti sorot kesedihan yang bercampur amarah namun berusaha disembunyikan dengan kehangatan tatapannya. Tian tidak pernah menyapanya, begitu pun lelaki itu. Setiap kali Tian berjalan melewatinya, ia hanya berdiri terpaku di sana, tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari sosok Diana yang tengah terbaring.

"Bisa kita bicara sebentar?" Tian menghampirinya dan bertanya perlahan, wajahnya terlihat sangat tegang. Andra memandangnya dengan senyum di bibir, tak terlihat terkejut sedikitpun. " Ya, sudah saatnya kita bicara."

Mereka berjalan menuju ruang tunggu yang sangat lengang. Masing-masing dengan pikirannya sendiri, menebak-nebak apa yang akan dikatakan, apa yang akan terungkap.

"Maaf, saya belum sempat mengenalkan diri," Andra mengulurkan tangannya perlahan sejenak setelah mereka duduk di ruang tunggu itu. "Andra. Dan anda pasti Tian kan? Diana banyak bercerita tentang anda." suara itu sedikit bergetar saat menyebutkan nama Diana, seolah sedang ada badai yang berkecamuk mengganggu pita suaranya. Tian tersenyum kaku. "Pasti bukan menceritakan hal yang baik ya? Kalau boleh aku tahu, sejak kapan anda berhubungan dengan istri saya? Maaf jika aku berasumsi seperti ini, tapi melihat anda sangat setia menunggui istriku, aku menyimpulkan anda bukan hanya seorang teman untuknya kan?" Entah kenapa semua pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Tian. Tian terlihat gusar sekarang. Ia menyesal telah mengatakan semua itu karena ternyata ia masih belum siap untuk mendengar apa pun yang telah terjadi di antara mereka.

Lagi-lagi Andra hanya tersenyum. Dia melihat gurat gundah di wajah Tian. Ia sebetulnya sangat ingin memaki lelaki di hadapannya. Lelaki bodoh yang telah menyia-nyiakan seorang putri yang begitu berharga untuknya, seorang putri yang tak bisa ia miliki meski sangat ia inginkan. Seorang putri yang kini tengah terbaring tak sadarkan diri di ruang serba putih itu. Tapi ia hanya bisa tersenyum dan kemudian berkata, "Ya, aku mencintai istri anda, kami saling mencintai. Maaf jika ini menyakiti anda, tapi anda harus tahu kebenarannya. Aku mencintainya sepenuh hatiku. Bagiku dia adalah seorang malaikat, dewi yang sempurna. Dan anda sungguh bodoh telah menyia-nyiakan nya."

Aliran kata-kata itu menjadi sembilu di hati Tian. Mengoyak hatinya. Ia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tetap tak sanggup mendengar pria itu mengatakan hal ini langsung di gendang telinganya. Nadinya berdenyut cepat, ada gejolak amarah yang berkecamuk di dadanya. Ia benci mengakui ucapan pria itu ada benarnya. Ya, ia memang bodoh telah menyia-nyiakan Diana. Tapi bukan berarti boleh ada lelaki lain yang mencintai istrinya itu. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan nya karena ia sadar ia telah bersikap buruk selama ini terhadap Diana. Tak pernah sedikit pun ia memperlakukan Diana sebagai seorang istri. Pernikahannya selama ini hanya sebuah status. Hanya sebuah ambisi untuk memiliki orang yang sangat sulit ia taklukkan. Tapi ternyata ia salah. Ia mencintainya. Ia mencintainya sejak dulu, hanya saja ego nya telah mengaburkan semua itu. Dan ia sungguh bodoh.

Tian terdiam. Begitu juga Andra. Hening. Sepi. Tak perlu lagi ada kata yang terucap. Mereka menyadari itu. Mereka sudah sangat mengerti. Tak ada yang bisa disalahkan atau dibenarkan. Itulah cinta. Tak ada yang salah dengan cinta.

Setelah terdiam cukup lama akhirnya Tian bangkit. "Masuklah, mungkin dengan kehadiranmu ia akan lebih cepat sadar. Apa pun yang akan terjadi nanti, biarlah dia yang tentukan pilihannya. Aku hanya ingin istriku kembali." Suaranya bergetar, menahan segala kecamuk di dadanya. "Terima kasih." Hanya itu yang terucap dari bibir Andra.

Lalu mereka berdua melangkah memasuki kamar itu, Andra segera menghampiri Diana. Ia memegang tangannya yang dingin dan mencium keningnya. Semua kerinduan itu tertumpahkan. Semua kesedihan yang terpendam terpancar keluar. Ada bulir bening di sudut matanya. "Yang, ini Andra, Yang. Ayang harus bangun. Ayang ga boleh bikin Andra cemas. Ayang ga boleh kaya gini terus. Andra udah memilih, Yang. Andra siap lepasin semuanya. Tapi Ayang harus bangun. Kita hadapi sama-sama ya." Andra sudah tak lagi mampu membendung bulir bening di ujung matanya. Ia sungguh ingin melihat kedua mata indah itu terbuka. Ia ingin bibir cantik itu tersenyum. Ia sangat merindukannya. Tapi tak ada yang terjadi, kedua mata itu tetap terpejam. Damai.

Sementara di sisi lain, wajah Tian mengeras. Ia menguatkan diri melihat dan mendengar semua itu. Ia tak menyangka ia harus menyaksikan sendiri semua ini. Ia tak menyangka ia masih memiliki rasa cemburu dan ia sangat takut kehilangan. Tapi Tian tak bisa berkata apa-apa. Ia membiarkan tangan lelaki lain menggenggam tangan istrinya. Apa pun akan ia lakukan asal ia bisa melihat istrinya tersenyum kembali.

Malam berlalu dalam hening. Kedua lelaki itu tetap di tempatnya. Tak sedikit pun mata mereka terpejam, tak ada sedikit pun percakapan yang terjalin. Hingga detik mengantar pergantian hari, sepi masih menemani. Hingga menjelang fajar kala matahari mulai menghangatkan dunia, tiba-tiba Andra merasakan jari-jari yang ia genggam bergerak perlahan. Ia terhenyak. Apa ini mimpi? Mungkinkah ia tertidur dan bermimpi? TIDAK! Ia tidak tertidur, ia tidak bermimpi karena ia melihat Tian juga tersentak. Mereka saling berpandangan sejenak. Mereka serentak bangkit. Andra memanggil Diana dengan lembut. "Yang... Ayang...Bangun sayang. Ini Andra, bangun yang." Jari-jari lentik itu kembali bergerak. Ada lonjakan yang aneh di hati Andra. Ia bahagia, tapi juga cemas. Perlahan ia membelai rambut Diana yang tergerai. Dan akhirnya kedua mata itu perlahan terbuka.

Diana menemukan seberkas cahaya terang yang menyilaukan matanya. Lalu setelah cahaya itu memudar ia menemukan sesosok wajah yang sangat ia rindukan. Ia melihat Andra, tersenyum dengan bulir air yang tertahan di pelupuk matanya. Ia bahagia melihat Andra. Ia tahu Andra selalu ada di sana, menungguinya. Lalu perlahan matanya bergerak ke satu sisi lainnya. Ia melihat Tian. Tapi kemudian Tian berlalu begitu saja. Ingin sekali Diana memanggilnya. Ada yang harus ia sampaikan. Tapi suaranya tercekat. Tak ada bunyi yang bisa ia keluarkan. Ia kembali menutup matanya perlahan. Mengumpulkan segala kekuatan yang tersisa.

"Yang, Andra seneng Ayang dah bangun. Ayang jangan kaya gini lagi. Andra akan selalu ada buat Ayang, Andra janji, Yang. Maafin Andra ga temenin Ayang waktu itu. Maafin, Yang." Andra menciumi tangan Diana. Ia bahagia dewi nya terbangun. Tapi entah kenapa ada rasa takut yang tiba-tiba menelusup. Lengan itu masih terasa sangat dingin. Ada perasaan aneh yang menghampiri. Sepertinya ia akan kehilangan sesuatu.

Diana kembali membuka matanya. Ia mengumpulkan suaranya dan berkata perlahan, "An.. dra..ma af udah bi kin An dra cemas. Ma na Ti an?" Andra sontak mencari Tian. Ia tak sadar Tian sudah tidak ada di sana. "Pang gil Tian, Ndra!" Belum sempat Andra beranjak, Tian sudah ada di pintu masuk bersama seorang dokter dan suster.

"Maaf sebaiknya kalian menunggu di luar, biar kami periksa dulu keadaan ibu Diana." Suster itu berkata sambil mempersilakan Tian dan Andra untuk keluar.

Tapi Diana mencegahnya. Ia memegang tangan Andra. " Ja ngan pergi, Ndra. Tian ju ga.A da yang ha rus ku sampai kan." Diana berkata terbata-bata. Tian segera menghampirinya.

"Tapi Ibu harus saya periksa dulu, Bu. Hanya sebentar saja." Kali ini pria separuh baya berjas putih itu yang berbicara.

"Se bentar sa ja, Dok. A da yang ha rus saya bi cara kan."

Andra urung beranjak. Sementara Tian membeku di tepi ranjang. Entah mengapa ia tahu saat yang ia takut kan akan segera datang.

"An dra sayang, makasih selama ini udah memberikan Diana kebahagiaa dan kekuatan. Makasih atas semua waktu dan kisah yang udah kita lewatin sama-sama. Maaf Di ana ja di menempatkan Andra di posisi yang su lit. I Love you, baby. I found my missing soul in you." Hening sesaat. Diana mengalihkan pandangannya pada Tian. "Ti an, maaf, Di ana belum bi sa jadi istri yang sem pur na. Maaf semu a nya jadi begini. Diana mencintai pria lain." Tian hanya terdiam wajah yang keras itu kini terlihat melunak dan ada setitik air mata di wajah itu. Tak ada sepatah kata pun yang sanggup ia ucapkan. Ia hanya terdiam di situ.

Hening sejenak. Ruangan itu mendadak terasa sangat dingin, seperti ada kabut tipis yang perlahan turun.

"Ti an," Diana perlahan menggerakkan tangannya mengapai Tian. Tian segera menggenggam lembut tangan itu "" Lepasin Diana, ya? Di ana udah gak pan tas jadi istri Ti an. Di ana u dah meng khianati Tian. To long le pasin Diana.Tak ada lagi yang bisa kita per ta hankan." Tian tak sanggup menahan air matanya. Mulutnya terkunci rapat. Ia tak tahu harus berkata apa.

Diana mengalihkan pandangannya pada Andra. "Beib, I really love you, but I don't want to put you in a difficult situation. Apa yang kita lakukan salah, tapi gak ada satupun yang Diana sesali.." Andra memotong pembicaraan Diana dengan meletakkan jarinya di bibir cantik Diana. "Sssssttt, udah Sayang, gak perlu diteruskan. Andra udah memilih. Andra udah memutuskan. Mulai sekarang, Andra akan selalu ada buat Ayang. Apa pun yang akan terjadi, Andra akan hadapi. I love you , honey, and you are my world. I can't live without you." Andra perlahan mencium kening Diana, lalu ia menatap Tian dan dengan tegas berkata,"Maaf, Tian. Aku mencintai Diana, izinkan kami bersama. Aku yakin aku lebih bisa membahagiakan Diana di banding kamu. Maaf, tapi aku sungguh tak bisa kehilangan orang yang sangat aku cintai dan kesempatanmu sudah habis. Kau sudah menyia-nyiakannya. Kami saling mencinta, dan kau tak boleh menghalangi kami. Lepaskan dia."

Seribu belati tajam seolah menusuk seluruh jiwa dan raga nya perlahan. Ia tahu ia harus membiarkan mereka bersama. Ia sudah tak berhak menahan Diana, ia telah menyia-nyiakannya. Dan mungkin ini yang terbaik. Mungkin inilah saatnya ia memberikan kebahagiaan pada Diana, dengan membiarkannya bersama orang yang dia cintai. Meski berat, tapi ia harus berdamai dengan keadaan.

"Diana, maaf aku telah menyia-nyiakanmu dan membuatmu menderita. Andra, aku titipkan dia padamu. Aku akan segera mengurus surat-surat perceraian kita. Setidaknya aku akhirnya bisa memberimu kebahagiaan dengan melepaskanmu, Di. Meski sekarang sudah terlambat untuk mengatakan ini, tapi... aku mencintaimu, Di." Tian berkata perlahan dengan suara bergetar." Semoga kalian bahagia." Tian berlalu meninggalkan ruangan itu dengan berat hati. Akhirnya semua harus berakhir karena kebodohannya.

*****
end of story, and they live happily ever after..



By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Episode Malam-Malam Diana Chapter 7

EPISODE 7

Malam ini langit berwarna biru keemasan dihiasi bintang yang bertaburan dan bulan sabit yang tersenyum ramah menyapa bumi. Kedua lelaki itu berada di ruang yang berbeda, tapi mata mereka tertuju di satu titik yang sama. Satu sosok yang tengah terbaring dan tidak juga menampakkan tanda-tanda kehidupan selain dari alat pacu jantung yang terpasang di tubuhnya. Diana terbaring hampir tiga minggu lamanya, berada di batas dua dunia. Enggan melepas kesadarannya namun tak sanggup tuk kembali hadapi hidup. Terjebak dalam dimensi ruang dan waktu.

Malam itu Diana berjalan tanpa arah, semua rasa terbentuk dalam kepingan-kepingan gambar yang kian lama kian menyesakkan hatinya. Pernikahannya dengan Tian, hari-hari yang ia lalui dalam sepi karena Tian tak pernah benar-benar ada di sampingnya. Pertemuannya dengan Andra, segala kisah yang sudah terbentuk. Semua kecemburuannya pada Niar, kekasih Andra. Hingga pertengkaran terakhirnya dengan Tian. Sudah terlalu lama Diana memendam pedih, hingga tiba di satu titik ia tak lagi sanggup menampung semua luka dan kecewa. Ia terjatuh tak sadarkan diri dalam deras hujan di malam itu. Tak sadarkan diri hingga kini.

Tian terduduk di samping ranjang itu, memegang erat tangan istrinya. Hatinya berkecamuk. Segala sesal menghampirinya saat ini. Dan penyesalan terdalamnya adalah menyia-nyiakan orang yang pernah sangat berarti dan ternyata masih sangat berarti dalam hidupnya. Tian belum siap kehilangan Diana. Dan rasa takut kehilangan itu semakin menjadi saat ekor matanya menatap sesosok pria yang kini sedang berdiri di balik kaca ruangan tersebut, dengan raut kesedihan yang ia rasakan sama dengan rautnya kini. Tian paham semua itu, Tian tahu apa yang telah terjadi dan sesalnya semakin menjadi.

Andra hanya bisa terdiam menatap sosok Diana di kejauhan. Dia sungguh ingin berada disampingnya. Berjuta andai saling tumpang tindih di benaknya. Andai ia memilikinya lebih dulu, dan bukan pria itu. Andai ia tak pergi saat itu. Andai ia bisa menukar hidupnya dengan dia yang terbaring di sana. Andai... andai... dan andai... Bahkan di saat seperti ini pun ia tak bisa ada di sampingnya, memegang tangannya dan mendampinginya hingga ia tersadar. Andra hanya mampu termenung di situ, berharap Diana tahu ia ada dan menungguinya meski hanya di balik kaca.

Malam semakin larut. Kedua lelaki itu tetap terjaga. Meski dalam ruang yang berbeda, pikiran keduanya berada dalam dimensi yang sama. Dimensi tempat Diana kini berada. Di batas dua dunia.

By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Satu Hari di Panti Jompo

Tatapan itu tak bisa kutebak, entah bahagia entah merana..yang pasti mereka bersama menjalani sisa hidup di panti jompo ini. Hatiku berdesir menyisipkan sebuah harapan, semoga saja kelak saat tubuh ini tak lagi kuat, saat fikiran ini lebih banyak lupa dibanding ingat, saat aku tak lagi berdaya mengarungi dunia tetapi raga masih tak mau berpisah dari jiwa, anak anakku mau menemani masa tuaku, walau hanya dengan sebuah sentuhan dan tatapan cinta.


Tak Pelak banyangan Mama-pun hinggap dalam benak, dan hati berujar janji

tak akan pernah kubiarkan kau sendiri Mama..
aku ada untuk ada
ada kapanpun saat kau butuhkan
ada dan akan bersama memikul rasa sendirimu saat tubuhmu tak lagi kuat
ada dan aku pastikan kau dapat memegangku erat saat energimu tak lagi sebesar saat mengurusku

Mama..aku tak akan pernah bisa membalas semua keringat dan air matamu yang tercurah saat kau membesarkanku
tapi aku pastikan, hingga akhir hayatmu aku akan menjagamu.. InsyaAllah ..

Suara tawa menyadarkan lamunanku, mata kami tertuju keseorang kakek yang sedang bernyanyi.. begitu riangnya, dan keriangan itupun menular kepada kami.. Alhamdulillah di umurnya yang lebih dari 60 tahun, kakek masih bisa berbagi bahagia.

Usai bergembira, dan memberikan bingkisan simbolik buat sang kakek & nenek, kamipun berkeliling melihat Asrama, tercengang sesaat melihat ranjang yang berjejer rapi, dan disana kami disambut dengan uluran tangan nenek tentu dengan senyum bahagianya.
Ada seorang nenek yang cukup menarik perhatianku ” nenek Siti Rahmi ” namanya, beliau berusia lebih dari 80 Tahun, dari logatnya aku menebak beliau berasal dari padang sumatera barat. Meski tak mengerti banyak bahasa padang, aku meresponnya dengan senyuman, seraya hatiku hanya dapat mendo’akannya agar Nenek ini diberikan Allah kebahagiaan disisa hidupnya juga di Akherat kelak.

Rasanya waktu tak cukup banyak, kamipun harus terus berkeliling dari asrama yang satu dan yang lain, mataku tak henti menyapu semua aktifitas disana.. aku melihat beberapa kakek nenek antri makanan untuk berbuka yang satu membantu yang lain, Subhanallah..mereka sepertinya sudah menyakini bahwa sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama

Disisa energinya, merekapun masih terbilang produktif, beberapa kelas keterampilan memang di selenggarakan disini, membuat Taplak Meja, Keset, bahkan ada keterampilan seni. Sabar & Ikhas terpancar dari instruktur / pengurus para Jompo, mereka melayani dengan senyuman, menatap sang jompo dengan kasih sayang.. Subhanallah..

Tak terasa, waktu sudah menunjukan jam 4 sore, kami harus bergegas pulang dan rasanya cukup lama kami menggangu waktu para Jompo itu, mereka butuh istirahat apalagi untuk Jompo yang berpuasa, tentu jam 4 adalah puncak segala kelelahan.

Aku bersama teman temanpun pulang, petualangan fisik di panti jompo memang berakhir tetapi aku menyakini petualang rohani tak akan pernah berakhir,dan rasanya bingkisan yang kami serahkan tak lagi sebanding dengan bingkisan pelajaran untuk kami mengenai pengingatan kami akan orang tua yang semakin meneguhkan kami bahwa sedikitpun tak akan kami sia siakan mereka..

26 Agustus 2009.. hanya untuk berbagi


By:Widya Castrena Nugraha/Skandal

Episode Malam-Malam Diana Chapter 6

EPISODE VI

Malam-malam berikutnya beranda itu dihiasi tawa bahagia dan tangis kesedihan Diana. Semua tentang Andra, lelaki yang ia cintai kini. Selalu tentang Andra. Bagaimana Andra telah mengisi hari-harinya dengan keindahan, juga tentang kecemburuan dan penantiannya saat Andra harus pergi menemui kekasihnya di kota lain.

Hingga satu malam, Diana menumpahkan kecemasannya akan Tian, lelaki yang telah menjadi suaminya. Tian yang selalu bepergian ke luar kota. Tian yang tak pernah menganggapnya ada. Tian yang hanya akan pulang saat orang tuanya ingin bertemu. Bukan karena ingin tahu keadaan sang istri, apalagi karena merindukannya.

Entah kenapa malam itu Diana merasa sangat cemas, Tian menelponnya tadi siang. Tian bilang malam ini ia akan pulang. Perasaannya berkata akan terjadi hal yang buruk, entah apa itu. Di antara kekhawatirannya, Diana mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Diana tahu Tian telah datang. Ia bergegas turun untuk menyambut suaminya. Beranda itu tampak hening. Sepi.
Tak bertuan.. di temani malam berlapis bintang. Malam berlalu begitu saja hingga fajar kembali menyapa. Tak ada yang terjadi malam itu. Semua terlelap dalam lelahnya.

****

“Tian sudah kembali, Ma. Tapi tak banyak yang berubah. Dia tetap dingin. Dia bukan lagi sahabat yang aku kenal dulu. Dia bukan lagi kekasih yang aku tunggu bukan juga seorang suami yang dulu mencintaiku dan selalu menyapaku hangat. Dia hanya seorang asing yang berstatuskan suamiku. Kebersamaan kami kini hanya dihabiskan dalam diam. Berkali aku coba membangun percakapan dengannya, tapi apa yang ku dapat? Hanya sebuah senyum kaku yang dipaksakan. Tak ada kata yang terucap. Jika pun akhirnya dia mengucap kata, maka pertengkaranlah yang akan menjadi penyelesaiannya.”

Malam ini hujan turun cukup deras. Aneh, sudah lama langit tak menangis karena memang seharusnya hujan tidak turun di musim kemarau seperti saat ini. Alam berbahasa, dia ikut menangis saat ada insan yang terluka. Seperti Diana, malam ini matanya terlihat sembab setelah hampir seharian ini dia menangis. Sesekali masih terlihat ia menahan isak. Tapi kali ini ada yang berbeda. Diana tidak lagi ada di beranda kamarnya, melainkan di sebuah bangku taman di tengah kota. Ia membiarkan tubuhnya basah terguyur hujan.

“Seperti yang baru saja terjadi, Ma, itu adalah pertengkaran terhebat yang pernah terjadi selama dua tahun ini. Tian bilang menikahiku adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Hatiku tersakiti, Ma. Selama ini, Tian yang selalu meninggalkan aku. Selama ini aku yang selalu tersakiti. Dan tadi Tian menamparku hanya karena aku menanyakan apakah ada wanita lain. Mama lihat sendiri kan? Ma.. aku sungguh tidak bahagia. Aku capek dengan semua ini. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya, Ma. Mungkin ini yang terbaik.”

Malam semakin hening. Dalam kegalauannya muncul wajah Andra di benaknya. Sudah dua hari ini diana tak bertemu dengan Andra karena Andra tahu Tian akan pulang. Andra pikir itu yang terbaik. Andra tidak ingin Diana menjadi semakin menderita jika Tian tahu apa yang tengah terjalin di antara mereka berdua dan Diana mengerti itu. Diana tiba-tiba meraih saku jaketnya dan mengeluarkan handphonenya. Jari jemarinya yang memucat karena dingin menekan keypad handphonenya perlahan. Sejenak ada ragu menghiasi wajahnya, tapi terlambat, sudah ada yang menjawab teleponnya di ujung sana.

“Kenapa, Yang? Lagi di mana? Tian mana?” Sebuah suara yang selalu Diana rindukan, yang selalu temani malam-malamnya saat Tian tak ada.

“Ndra, Diana berantem hebat sama Tian. Diana capek, Ndra. Andra di mana?” Suara Diana bergetar.

“Andra lagi di jalan, Yang, Niar minta Andra datang malam ini. Andra ga bisa tolak, Yang. Niar lagi bener-bener butuh Andra. Ayang di mana sekarang? Baik-baik aja kan Yang?” Andra terdengar cemas di ujung sana. Hening sejenak. “Yang??”

Air mata Diana sudah tak tertahankan lagi, tapi ia berusaha untuk tegar. Ia tak ingin Andra mendengar suara tangisnya. Dengan berat akhirnya Diana menjawab, “Iya, Ndra. Ya sudah, pergilah. I'll be alright. Just go and see her, temui Niar dengan senyuman. Salam Diana buat Niar. Take care ya, Love you.” Klik. Diana memutuskan sambungan telfonnya sebelum akhirnya mematikan handphonenya.

Diana merasa seperti tertimpa ribuan batu besar, kepalanya terasa berat, dadanya sangat sesak. Dunianya gelap...


By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Episode Malam-Malam Diana Part V

EPISODE V

Setelah satu malam kelabu, di antara biru yang sempat singgah, terlalui dengan kegundahan Diana akan cinta yang tak seharusnya ia miliki, Diana kembali hadir di beranda sepi itu. Beranda yang senantiasa menemani perenungan malamnya.

Entah apa yang sedang terjadi di langit malam ini, tapi malam ini langit berwarna jingga. Tak ada angin yang berhembus. Sepi. Semua sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing, tapi tidak dengan Diana. Ia menikmati jingga nya langit malam ini. Ia terduduk di bangku kecil itu, tapi ada yang berbeda kali ini, pandangannya kosong.

“Aku ingin Mama di sini. Aku ingin tahu apa mama akan memaklumkan apa yang tengah terjadi dalam kehidupanku saat ini. Aku tahu Mama tak pernah ingin aku menjadi seperti Mama. Aku juga tak mau begitu, Ma, tapi terlambat.. Aku sudah menjadi seperti Mama. Aku mencintai lelaki lain saat aku masih terikat status pernikahan, dan aku juga mencintai orang yang telah memiliki seorang kekasih padahal aku tahu mereka juga saling mencintai. Tapi aku pun yakin dia mulai mencintai aku juga dan perasaan yang ada di antara kami tumbuh begitu saja seiring waktu, hingga akhirnya mengakar kuat dalam setiap aliran darah kami. Rasa sayang itu tumbuh perlahan dari setiap detik kebersamaan yang telah terjalin di antara kami. Kami saling menyayangi.
Namun akhirnya hal itu membawa masalah baru untukku, dengan statusnya yang telah memiliki seorang kekasih yang juga dia sayangi sehingga berkali-kali aku harus merelakan dia membagi perhatian dan waktunya, untukku dan dia.
Aku seakan tersadar satu hal. Ternyata Mama dan Bunda, dua ibuku, adalah wanita-wanita yang sangat kuat dan hebat. Tak sedikit pun mengeluh atau bahkan menampakkan kesedihan saat Ayah harus membagi waktunya dengan salah satu di antara kalian. Tak pernah ada gurat kecewa meski lara itu ada menorehkan luka di hati kalian. Dan akhirnya kali ini aku belajar sekuat Mama dan sesabar Bunda, membiarkan orang yang aku cintai membagi waktu dengan kekasihnya yang lain.
Sering kali terasa sakit, Ma, Aku bahkan tak mengerti bagaimana Mama dan Bunda sanggup hadapi itu semua. Tapi ternyata selalu ada akhir yang indah saat kami kembali bertemu. Semua seolah terbayarkan. Mungkin inilah yang dulu Mama dan Bunda rasakan.
Hmmm.. Ternyata sulit ya, Ma. Seperti malam ini, saat dia harus pergi menemui kekasihnya dan aku sama sekali tak bisa melarang. Aku tak sanggup membayangkan dia memeluknya, menatapnya seperti saat dia menatapku atau sekedar bercengkrama melepas rindu. Tapi aku harus membuang jauh-jauh bayang itu, karena semua gambaran itu hanya akan menambah luka di hatiku. Aku hanya harus mempercayainya. Meyakini bahwa dia akan kembali untukku dengan semua rasa cinta dan sayang yang dia miliki untuk aku. Dan aku hanya harus berada di sini, melewati malamku, menanti dia kembali.”

Jingga perlahan memudar dan langit kembali menjadi gelap. Diana menengadah menatap langit. Sedetik kemudia ia menghela nafas dan perlahan beranjak memasuki ruang kamarnya. Ia kembali menatap langit sejenak, matanya menerawang melalui pintu kaca kamarnya. Angannya melayang jauh ke sana, ke tempat di mana saat ini ada sepasang kekasih yang sedang melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu karena jarak memisahkan mereka. Diana kemudian tersadar dan menggelengkan kepalanya berharap dengan begitu semua bayang itu akan sirna, sebelum akhirnya menutup tirai pintu kamarnya. Beranda itu kembali sepi.

By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Episode Malam-Malam Diana Part IV

Malam ini langit menurunkan rintik gerimis. Diana berdiri di berandanya. Ia membiarkan tetesan gerimis menerpa wajahnya. Matanya terpejam, wajahnya menengadah menghadap langit. Ia nikmati setiap tetes air yang menyapu pori-porinya. Ada segurat senyum di sana. Angannya berlari mengejar satu bayang yang telah temani hari-hari terakhirnya kini. Seorang sahabat, mantan pacar adik yang tak pernah ia miliki itu.

“Ma, aku benar-benar telah jatuh cinta. Kami kini sering bertemu. Dia telah mengisi kekosongan hatiku. Dia temani hari-hari sepiku. Dia telah beri aku arti hidup. Aku selalu merasa nyaman saat dia ada di dekatku. Aku merasa telah menemukan separuh nafasku yang hilang pada dirinya. Aku merasa seperti menemukan separuh jiwaku. Atau mungkin sebetulnya jiwa ini memang tidak pernah terbelah, namun dia telah melengkapi jiwa ini. Menjadikannya sempurna. Kami telah saling melengkapi satu sama lain.”

Diana lalu membuka matanya. Raut wajahnya tiba-tiba berubah, tak ada lagi senyum, hanya ada sorot kesedihan dan kegundahan. Diana menghela nafas, membebaskan sebagian beban yang mulai menyesakkan hatinya. Gerimis telah menyamarkan butir-butir halus yang kini menetes di ujung kelopak matanya.

“Tapi, Ma, sepertinyai aku mencintai orang yang tidak seharusnya aku cintai. Aku jatuh cinta di saat yang salah. Aku telah menjadi seorang istri dan kini terjebak dengan status pernikahanku. Pernikahan yang tak pernah ada kebahagiaan di dalamnya namun masih juga aku pertahankan hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarga kita dan keluarganya. Sementara dia juga telah mendapatkan kebahagiaan dari seorang kekasih yang dia cintai. Tapi aku tak bisa menghindar dari semua rasa ini, Ma. Aku sudah terlalu mencintainya dan aku tahu dia telah mencintai aku juga, meski mungkin tak seutuh cinta yang ku miliki kini. Hanya dia yang mampu kembali mengisi kekosongan ini dan kini aku sungguh takut, Ma. Aku tak mau menjadi sepertimu, yang akhirnya mencintai lelaki yang salah hingga kau menderita. Dan ketakutan itu kini semakin menjadi saat aku merasa aku tak lagi bisa jauh darinya padahal aku sadar kami tak mungkin bersatu. Terlalu banyak pertentangan yang akan kami hadapi, aku tak tahu apa aku kan sanggup hadapi semua kontroversi ini, begitu pun dengan dia. Kami belum mampu membayangkan segala konsekuensi yang akhirnya harus kami tanggung nanti.”

Diana kini menunduk dalam. Air matanya sudah tak lagi mampu disembunyikan gerimis. Bahunya terguncang seolah sedang ada gempa yang bergejolak di dadanya. Malam menjadi kelabu diantara biru yang sempat singgah.

--- masih to be continued ke chapter V :D ---

By:Dini Nurdiyanti/Skandal

Episode Malam-Malam Diana Part III

EPISODE III

Hari demi hari, bulan demi bulan mengantar ke pergantian tahun. Ini malam pertama di tahun yang baru. Bulan sabit bersinar ditemani bintang yang bertaburan di sekelilingnya. Diana baru saja membuka pintu kamarnya dan beranjak ke beranda yang sudah lama ia tinggalkan. Jika sebelumnya, saat terakhir kali ia berada di beranda tersebut, Diana berdiri dengan duka ketakbahagiaan pernikahannya maka kini ia berdiri di sana dengan senyum. Matanya menerawang menembus sebuah bayang wajah yang kini hiasi hari-harinya.

“Ma, sudah lama rasa ini mati. Sudah lama kututup rapat hatiku, tapi entah mengapa ia sanggup mengetuknya. Mama tahu pernikahanku dengan Tian kini hanyalah sebuah status. Tak pernah lagi ada cinta di dalamnya. Kami menjalani kehidupan kami masing-masing. Tak pernah ada lagi kebersamaan. Aku sudah lama mati rasa. Tak ada lagi rindu, cinta bahkan benci. Tak pernah lagi ada getaran-getaran yang mampu membuat wajahku merona merah. Tapi hari ini, Ma.. Aku kembali merasakannya saat aku bertemu dia. Dia, mantan kekasih Mitha. Mama kenal Mitha kan? Mitha adalah adik yang tak pernah aku miliki. Mitha, yang memutuskan untuk pergi meningalkan kita semua termasuk dia, karena ingin membahagiakan orang tuanya. Dulu kita sering bercanda bersama, aku, Mitha dan dia. Setelah sekian lama, entah kenapa Tuhan mempertemukan kami lagi. Aku dulu mengenalnya sebagai satu seorang remaja cuek yang sering membuat kekonyolan. Tapi kini dia sudah banyak berubah, Ma. Lebih dewasa. Dulu aku sempat mengaguminya karena sikap cueknya. Dan kini setelah berkali-kali bertukar cerita di dunia maya, tempat kami secara tak sengaja kembali bertemu, aku kembali mengaguminya dan secara tak sadar getar getar itu mulai hadir.
Siang tadi kami bertemu, Ma. Dan itu adalah pertemuan pertama kami setelah bertahun-bertahun kami tak bersua. Getar-getar itu semakin terasa saat dia ada di sisiku. Beberapa kali ku dapati dia sedang memandangku dan sungguh ada getar-getar aneh yang menjalar di seluruh pembuluh darahku saat ia menatapku. Aku salah tingkah. Terlebih saat ia memperlakukanku dengan sikap seorang gentlemen. Aku sungguh tak berdaya. Aku menikmati setiap detik bersamanya, aku menikmati debar-debar halus yang bermain di dadaku, aku menikmati setiap tatapan matanya.”

Diana bergerak mengikuti irama yang bersenandung dalam hatinya. Ia berputar-putar dengan mata terpejam. Ia menikmati semilir angin yang menerpa tubuh indahnya. Wajahnya bercahaya tertimpa sinar sang rembulan. Kebahagiaan terpancar nyata dalam setiap lekuk wajahnya.

“Ma, ku kira aku telah jatuh cinta!”

--- bersambung ke episode IV ya.. ---

By: Dini Nurdiyanti/Skandal

Episode Malam-Malam Diana - PART II

EPISODE II

Besok, hari besar itu tiba. Segala persiapan sudah sempurna. Tak ada satu detailpun yang terlupakan. Diana ingin semuanya berawal sempurna karena dengan begitu ia akan semakin yakin kehidupan pernikahannya nanti akan jadi sempurna tak bernoda. Dan malam ini adalah malam terakhir ia menikmati malam di beranda itu sendiri. Besok akan ada yang menemani malam-malamnya.

“Ma, ini malam terakhir aku sendiri. Aku ingin semua akan berjalan dengan baik. Aku tak mau menjadi seperti Ira dan Anwar. Aku tak ingin menjadi sepertimu,Ma. Maaf, bukan aku tak menghargaimu, Ma, tapi aku tak mau pahitnya pernikahan yang kau alami harus juga aku alami. Ma, restui pernikahanku dan doakan yang terbaik untukku. Aku yakin dia yang terbaik untukku. Dia sudah melengkapi hidupku dengan caranya sendiri. Dia sudah cukup sempurna untukku. Dan itulah yang memberikan aku keyakinan untuk menikahinya.”

Beberapa bulan berlalu setelah acara pernikahan yang menurut Diana sangat sempurna. Sayang tidak begitu dengan pernikahannya. Dan ia kembali terduduk sendiri di beranda kamarnya. Matanya basah, hujan telah turun dari matanya menghiasi malam yang berbintang ini. Kali ini malam tidak berpihak padanya.

“Ma, aku terperangkap sekarang. Apa yang selama ini ku takutkan telah benar-benar terjadi. Aku kecewa, Ma. Cinta itu perlahan terkikis oleh ego kami. Tak mudah ternyata menerima dan memaafkan kesalahan yang dia buat, Ma. Ini sudah keberapa kalinya dia seperti ini. Aku tersakiti, Ma. Aku kira dia lain dari lelaki lainnya. Ternyata dia sama. Dia khianati aku dengan kemesraannya pada wanita lain. Aku sudah berusaha menerima sifatnya yang terkadang terlalu ramah pada wanita lain, tapi tidak untuk bermesraan dengan yang lain. Aku merasa terbuang dan tersia-sia. Aku sadar sekarang, ternyata Mama adalah seorang wanita yang sangat kuat. Entah apa aku bisa sekuat Mama yang harus berbagi suami dengan Bunda. Aku bahkan mungkin tak akan bisa sesabar bunda yang harus menerima kesendiriannya saat Papa meluangkan waktu untuk Mama dan kami anak kalian berdua, Ira, Anwar dan aku. Mama adalah Super Woman, yang tak sedikitpun pernah mengeluhkan tentang hal ini, Mama bahkan rela membagi kasih anak-anaknya dengan Bunda. Aku tak akan bisa seperti kalian berdua. Saat ini saja aku merasa duniaku sudah hancur. Aku ingin sendiri, Ma. Aku akan menutup hatiku sekarang. Sudah cukup semua rasa sakit ini. Aku akan mematikan semua rasaku. Cukup sampai di sini.”

Malam demi malam berganti. Beranda itu tampak selalu sunyi. Tak pernah lagi ada Diana di sana. Hanya sebuah bangku kosong dan semilir angin yang senantiasa menemani kekosongannya.

--- bersambung lagi ---


By: Dini Nurdiyanti/Skandal

sebersit bimbang di titian rindu

semua terlalu bertentangan
tak ada yang sejalan..
apa yang kau katakan..
apa yang ku baca dan ku lihat
semua membaur dan mengabur..
terbitkan bimbang di titian rindu..
hingga akhirnya aku sadarkan diriku
terlalu sulit tuk menggapaimu..
harapkanmu berikan hatimu utuh..
mungkin hanya akan ada dalam imagi..
seperti selama ini..
dalam dunia imagi yang kita bagi..
mungkin tak kan pernah jadi nyata..
dan tak akan ada akhir yang indah..
seperti inginku..
dan semua mungkin kan hanya jadi
sebuah 'andai'..

Dini Nurdiyanti/Skandal

Episode Malam-malam Diana

EPISODE I

“Ma, dia melamarku. Aku bingung, Ma. Dia sahabatku, dan kini dia mengajakku bertunangan. Sudah hampir 7 tahun kami bersahabat.” Diana menghela nafasnya sejenak. Matanya menerawang jauh seolah tengah menelisik langit malam yang kini tak berbintang.

“ Ma,” ia melanjutkan, “Aku takut. Aku tidak siap dengan sebuah keterikatan. Mama tahukan apa yang terjadi saat pernikahan Ira beberapa bulan yang lalu, dia meninggalkan aku, Ma. Dia bahkan mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Dia, yang telah cukup lama menjadi kekasih sempurnaku, akhirnya menyakiti aku dengan untaian makinya. Saat itu aku bertekad untuk tidak menikah dalam waktu dekat ini. Mungkin nanti, lima tahun ke depan. Terlebih setelah aku melihat kehidupan rumah tangga kakak-kakakku yang setiap hari selalu dihiasi dengan pertengkaran dan aku juga teringat kehidupan pernikahanmu yang berbalut kisah pilu. Aku semakin yakin aku tidak ingin segera menikah, kecuali aku benar-benar sudah mendapat orang yang sempurna yang tidak akan menyengsarakan kehidupan pernikahanku karena aku belum melihat indahnya sebuah pernikahan dalam kehidupan nyata."

Langit malam berhias kilatan petir yang sesekali menjadikannya terang. Diana masih juga bergelut dengan keraguannya. Rambut hitamnya dia biarkan terurai dan sesekali tersibak angin yang cukup membuatnya merasa perlu untuk merapatkan cardigans kesayangannya. Ia memejamkan matanya sejenak saat langit kembali menjadi gelap setelah kilatan cahaya petir memudar.

“Ma, apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, Ma. Dia memang baik dan aku yakin saat ini dia memang sangat mencintaiku. Tapi sampai kapan cinta itu akan ada? Mereka semua juga begitu, sangat mencintai kekasihnya sampai memutuskan ingin segera menikah. Tapi apa yang terjadi saat mereka telah menikah? Sebulan sampai tiga bulan pertama mungkin masih terasa indah, selebihnya.. bagai neraka. Pertengkaran-pertengkaran kecil semakin membesar hingga perlahan mengikis rasa cinta mereka. Lalu?? Aku melihat bagaimana Anwar dan istrinya saling memaki setiap hari sebelum aku berangkat kerja, hanya karena hal sepele. Aku melihat bagaimana Ira yang tengah hamil muda menangis-nangis minta diantar cek kandungan ke dokter karena suami tercinta yang baru ia nikahi beberapa bulan itu menelantarkannya dan lebih memilih untuk hang out bersama teman-temannya. Akulah saksi hidup pernikahan kakak-kakak tersayangku.”

Malam kian larut, keheningan semakin menyeruak. Diana masih juga termenung sendiri di beranda kamarnya. Ia terdiam cukup lama hingga tetesan air mulai turun dari langit dan memaksanya masuk ke kamar tidurnya.

Satu bulan kemudian, di malam yang berbintang, Diana kembali membiarkan dirinya disapu semilir angin malam di beranda kamarnya. Ia tersenyum menyapa bintang. Senyumnya melengkung sempurna bak bulan sabit yang kini tengah menghiasi malam.

“Ma, aku sudah menerima lamarannya. Aku bahkan sudah bertunangan dengannya. Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku tak sanggup untuk menolaknya. Aku rasa dia sudah cukup sempurna untukku. Aku bahagia, Ma! Kami akan segera menikah.”

--- to be continued... ---


Dini Nurdianti/Skandal

Abu Di malam hari

Malam ini tidak hitam. Malam ini abu-abu. Dan jika kau akhirnya bertanya mengapa abu-abu? Jawabnya sederhana. Karena semua sedang tidak menentu. Tidak hitam tidak juga putih. Semua ada dalam ketidakpastian dan kegamangan.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Semua seperti tidak menentu. Sepertinya aku selesai. Tapi apa maksudnya?

Aku merasa selesai saat semua akhirnya terucapkan. Segala kegundahan yang selama ini hanya tertahan dalam kata yang tak pernah terucap, kini bergema di seluruh dinding ruang ini. Kita sama-sama lelah ternyata. Kita terlalu berbeda. Kau dengan kekonserfatifanmu dan aku dengan segala kemodernanku. Hanya satu kesamaan yang kita miliki. Kita sama-sama sudah lelah, hingga akhirnya berpikir semua ini hanya satu kesalahan.

Lalu apa akan terhenti di sini dan semuanya selesai? Mungkin kita sudah lama lupa bagaimana cara tuk saling mencinta. Atau mungkin lebih tepatnya aku sudah lupa cara mencintaimu. Aku tak tahu bagaimana harus berbahasa denganmu. Kata-kata seakan tercekat di tenggorokanku setiap kali itu tentangmu atau tentang kita.

Tapi apakah kau tahu? Aku belum lupa cara menyayangi seseorang dengan tulus. Aku belum juga lupa berbahasa. Bagaimana aku bisa yakin? Aku sangat yakin aku belum lupa karena kau tahu? Bahasaku mengalir dengan lugas dan indah saat aku dengannya. Bahkan terkadang tanpa berbahasa pun kami sudah mampu saling mengerti. Dia seperti aku yang terbelah dua. Dia adalah cerminku. Selama ini dia lah kekuatanku dan aku menyayanginya seperti aku menyayangi diriku sendiri.

Entah denganmu. Apakah kau sudah lupa bagaimana caranya berbahasa? Atau hanya denganku saja kau lupa bagaimana caranya berbahasa? Atau mungkin kau sedang belajar mencintai lagi, walau bukan denganku? Begitu banyak pertanyaan menghampiri, tapi tak satu pun jawaban aku temui. Semua memburam ditelan keheningan.

Seburam malam ini. Tak segelap hitam dan tak seterang putih, hanya kelabu. Entah pagi akan membawa warna baru apa. Semoga langit kan membiru hingga ada setitik harap mengubah abu menjadi biru.

By Dini Ahmad/Skandal

Show me the way!!

Keadaan yang semakin menantang ataupun mimpi yang indah tentang hidup yg sukses membuat kita harus terus menghebatkan diri menghadapi tembok besar yg biasanya menghadang dan harus diloncati bila ingin tiba di tujuan. Namun untuk membuat loncatan yang begitu tinggi agar muka tidak rata dengan tembok ataupun nyangkut di selangkangan, maka kita harus meloncat lebih tinggi dari temboknya. Tembok yang begitu tinggi membuat suatu perasaan ketidakmampuan muncul dan melemahkan perasaan, dan harus diimbangi dengan afirmasi dan persiapan untuk membangkitkan percaya diri.

Bagaimana caranya??

Otomatis pijakan kita harus rata dan kuat, supaya tidak mengurangi keseimbangan dikaki dan keraguan mendorong ke atas. Lalu kaki sebagai pegas/fungsi lontar haruslah keras dalam gaya tekanan dan ditarik sampai titik terbawah agar hasil lontaran per tersebut maksimal mendorong seluruh tubuh. Lalu badan haruslah ringan, tidah membawa beban yang tidak diperlukan untuk meloncat dan posisi badan pun menentukan kearah mana akan menuju. Lalu, (kalo boleh gw bilang) yang tak kalah penting adalah kepala. Kenapa gue bilang gak kalah penting? Karena hal ini yang membedakan loncat yang disengaja berdasarkan keinginan, dengan loncat tembok dengan insting karena dikejar anjing galak, rabies pula, atau oleh warga sekampung bawa obor dan golok sambil diteriakin maling.. hehehe.. Semuanya bisa menibakan ke atas tembok, hanya elo boleh pilih keadaannya, dengan keinginan untuk maju atau dipaksa karena terdesak keadaan.
Kepala-lah yang membedakan antara sadar dan tidak untuk memulai, meyakinkan hati, melihat ke depan dan memikirkan berapa jarak lari yang dibutuhkan sebagai ancang-ancang, mencari dimana pijakan yang rata dan kuat, tembok mana yang (mungkin) lebih pendek dari lainnya, berapa kuat lontaran yang dibutuhkan & berapa energi yang badan harus miliki untuk mewujudkannya dan juga apa yg tidak perlu dibawa baik di badan ataupun di pikiran, bagaimana posisi kemiringan badan kita untuk loncat, maupun menghadapi rintangan sebelum loncat misalnya batu kerikil, kubangan air ataupun angin, kapan saat yang tepat untuk melontarkan badan, dan menyiapkan pandangan yang fokus dan tangan terus menggapai ke atas agar pikiran hanya pada tujuan dan tangan selalu siap dan sigap dalam membantu menggapai puncak dari tembok tersebut.

Yeah right.. bla.. bla.. bla..
hahahaha.. I know..
santai lah..

Kalo semua itu terasa ribet dan udah buat berat kepala duluan, maka salah satu guru gue, James Gwee (courtesy from AXA Mandiri, Exelence is my life's national seminar & gathering) bilang, bukan cari 'how', karena ampe taun jebot juga lo gak akan tau 'how'-nya karena lo belom pernah melakukannya!! Yang dicari 'who'.. karena si-'who' itu udah pernah melakukannya, dan elo tinggal belajar sama dia..

Yeah right again..
gak semua mentor bisa dideketin dengan gampang kali..

But some times u don't have to searching the "it" mentor to guide you out from the dark age, but more from around us that make our daily surrounding, that their presence is available in anytime but we often miss the opportunity even failed to ask nor to listen. Your boss, friend, parents, family, spouse, even from your younger brother or your child, and so much more from TV, radio, internet, etc. Trus kalo mau lebih mantab, the "it" mentor biasanya menulis buku untuk membagikan pengalaman dia kepada masyaraka. Dan kita bisa dengan murah membeli pengalaman hidupnya yang membuat dia sukses luar biasa hanya di toko buku terdekat. Memang lebih enak lagi kalo kita mendengar langsung dengan ikut seminarnya, atau lebih mantabh lagi bila di-coaching langsung oleh sang trainer/mentor.. tapi itu pasti high-budget lah..

But in the end, it's all about you. Whether you want a succeed in life or not, whether you are willing enough to learn more than you are already comfort right now, whether you can keep up with your dream rather than lay back and enjoy the sight seeing..
Well, its a whole different story..

Until then,
Stay Grand and Focus

By Hendrik J.Silitonga/Skandal

Kahlil Gibran on Love

When love beckons to you, follow him,
Though his ways are hard and steep.
And when his wings enfold you yield to him,
Though the sword hidden among his pinions may wound you.
And when he speaks to you believe in him,
Though his voice may shatter your dreams
as the north wind lays waste the garden.

For even as love crowns you so shall he crucify you. Even as he is for your growth so is he for your pruning.
Even as he ascends to your height and caresses your tenderest branches that quiver in the sun,
So shall he descend to your roots and shake them in their clinging to the earth.

Like sheaves of corn he gathers you unto himself.
He threshes you to make you naked.
He sifts you to free you from your husks.
He grinds you to whiteness.
He kneads you until you are pliant;
And then he assigns you to his sacred fire, that you may become sacred bread for God's sacred feast.

All these things shall love do unto you that you may know the secrets of your heart, and in that knowledge become a fragment of Life's heart.

But if in your fear you would seek only love's peace and love's pleasure,
Then it is better for you that you cover your nakedness and pass out of love's threshing-floor,
Into the seasonless world where you shall laugh, but not all of your laughter, and weep, but not all of your tears.
Love gives naught but itself and takes naught but from itself.
Love possesses not nor would it be possessed;
For love is sufficient unto love.

When you love you should not say, "God is in my heart," but rather, "I am in the heart of God."
And think not you can direct the course of love, for love, if it finds you worthy, directs your course.

Love has no other desire but to fulfill itself.
But if you love and must needs have desires, let these be your desires:
To melt and be like a running brook that sings its melody to the night.
To know the pain of too much tenderness.
To be wounded by your own understanding of love;
And to bleed willingly and joyfully.
To wake at dawn with a winged heart and give thanks for another day of loving;
To rest at the noon hour and meditate love's ecstasy;
To return home at eventide with gratitude;
And then to sleep with a prayer for the beloved in your heart and a song of praise upon your lips.

By Arum Sekarwangi T/Skandal

Buat Kalian

Apa sebenarnya makna ulang tahun ? yang ada dibenakku..seperti halnya antrian, sekarang aku lebih maju selangkah.. menuju apakah? Tentu saja menuju waktu yang telah ditentukan Allah, saat aku akan menuju babak baru yang tentu saja bukan di dunia ini .Serem ya kalo ngomongin itu, tapi itulah kenyataan.. 29 Tahun sudah aku nenapaki kehidupan ini, menjalani suka dan duka, mengecap lara dan asmara, menjalani roda kehidupan yang kadang mendaki dan menurun..

Hari ini, tepat 29 tahun umurku.. aku menikmati banyak hal yang menyadarkan aku pada keagungan Allah, mebelalakan mataku bahwa begitu banyak keluarga, teman dan sahabat yang menyayangiku.. hari ini aku disirami banyak do'a oleh mereka, entar itu tulus atau tidak.. aku tak terlalu perduli, yang pasti do’a bagiku adalah kekuatan dan pengingatan agar aku selalu ”Eling” dalam menapaki hidupku di dunia yang entah berapa lama lagi

Hari ini, tepat 29 tahun umurku.. entah apa lagi yang harus aku minta dari Allah, rasanya kasih sayang-NYA sudah tercurah banyak untukku, tak terkira.. tak terbendung.. dalam sholatku aku tertunduk malu, terkadang aku lupa bersyukur terhadap apa yang telah aku punya, aku dapatkan, aku nikmati

Hari ini, tepat 29 tahun umurku..aku ingin berterima kasih untuk keluargaku tercinta, sahabat dan teman..terima kasih telah membagi kebahagian dalam kehidupanku


By Widya Castrena Gustiani/Skandal